Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Orang China Berkelana Sampai ke Indonesia

Jumat 12 Feb 2021 17:29 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Warga keturunan Tionghoa usai melakukan sembahyang Imlek 2572 di Klenteng Hok An Kiong, Muntilan, Jawa Tengah, Jumat (12/2). Tahun baru Imlek kali ini terasa berbeda, karena sepinya klenteng. Masa pandemi Covid-19 banyak warga keturunan Tionghoa menunda bepergian atau bersembahyang di klenteng.

Warga keturunan Tionghoa usai melakukan sembahyang Imlek 2572 di Klenteng Hok An Kiong, Muntilan, Jawa Tengah, Jumat (12/2). Tahun baru Imlek kali ini terasa berbeda, karena sepinya klenteng. Masa pandemi Covid-19 banyak warga keturunan Tionghoa menunda bepergian atau bersembahyang di klenteng.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Saat berkelana, Orang China juga membawa adat dan kebiasaan, termasuk perayaan Imlek.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Meiliza Laveda

Diriwayatkan, zaman dahulu kala di negeri Tiongkok hidup seekor raksasa bernama Nian. Raksasa yang tinggal di pegunungan itu dipercaya memakan hewan ternak, hasil panen, hingga manusia, setiap musim dingin berakhir yang biasanya bertepatan dengan hari tahun baru China. Masyarakat Negeri Tembok China takut setengah mati sehingga akan menutup pintu ketika malam Imlek tiba.

Mereka menyiapkan sesaji di depan rumah agar selamat. Namun suatu ketika, Nian dikabarkan kabur terbirit-birit saat melihat seorang anak memakai baju berwarna merah. Dari kabar itu, warga pun menghias rumah-rumah mereka dengan pernak-pernik berwarna merah, seperti lentera, gulungan kertas, dan memakai baju tradisional berwarna merah atau disebut Cheongsam.

Nian juga dilaporkan takut dengan suara keras dan api. Sehingga ketika musim semi tiba, warga pun menyalakan lentera dan membakar petasan.

Sekelumit cerita itu adalah mitos yang melegenda di masyarakat Tionghoa yang melatarbelakangi Imlek dirayakan dengan nuansa merah menyala.

Tahun baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa. Bahkan di Indonesia perayaan Imlek menjadi hari libur nasional. Lantas bagaimana awal perayaan tersebut dikenal di Tanah Air?

Sebelum membahas itu, perlu diketahui tahun baru Imlek atau Festival Musim Semi dimulai dengan bulan baru pertama dalam kalender lunar dan berakhir pada bulan purnama pertama dari kalender lunar yaitu 15 hari kemudian. Kalender lunar berdasarkan siklus bulan sehingga hari libur akan berbeda setiap tahun.

Menurut kalender Gregorius, itu dimulai antara 21 Januari dan 20 Februari. Sekitar 10 hari sebelum tahun baru, rumah dibersihkan secara menyeluruh untuk menghilangkan kesialan yang mungkin masih ada di dalamnya

Dikutip Britannica, Kamis (11/2), secara tradisional, malam tahun baru dan tahun baru disediakan untuk perayaan keluarga termasuk upacara keagamaan untuk menghormati leluhur. Anggota keluarga juga akan menerima amplop merah yang berisi sejumlah uang. Tarian dan kembang api sudah biasa dilakukan.

Pada malam hari pun, lampion akan menerangi rumah. Ada pula makanan tradisional yang mewarnai perayaan itu, misal yuanxiao (bola ketan) atau yusheng (ikan mentah dan salad sayuran).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA