Kamis 11 Feb 2021 00:25 WIB

Dinkes DKI Masih Investigasi Vaksin Helena Lim

Proses pemeriksaan vaksin Helena Lim berkoordinasi dengan organisasi profesi terkait.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Yudha Manggala P Putra
  Tenaga kesehatan mempersiapkan vaksin Covid-19. Ilustrasi
Foto: EPA/MONIRUL ALAM
Tenaga kesehatan mempersiapkan vaksin Covid-19. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, pihaknya masih melakukan investigasi dan pendalaman terkait kasus pemberian vaksin Covid-19 terhadap Helena Lim. Dia menyebut, proses pemeriksaan itu dilakukan berkolaborasi dengan organisasi profesi.

"Kami sedang mendalami, melakukan koordinasi dengan organisasi profesi terkait dengan kegiatan tersebut. Kami melakukan investigasi, pendalaman kasus bersama dengan organisasi profesi. Kita siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk pendalaman ini," kata Widyastuti di Polda Metro Jaya, Rabu (10/2).

Widyastuti menuturkan, tujuan utama pemberian vaksin adalah memberikan perlindungan kepada tenaga kesehatan, tenaga penunjang maupun tenaga administrasi lainnya. Hal itu, kata dia, sesuai dengan surat edaran Dirjen P2P.

"Di dalam edaran Dirjen P2P bahwa bukan semata-mata tenaga kesehatan, itu tenaga kesehatan, tenaga penunjang, tenaga adminstrasi lain. Sehingga kalaupun di lapangan ditemukan ada sesuatu yang mungkin kurang pas, tentu menjadi perhatian Pemprov DKI," ujarnya.

Dia menjelaskan, pendalaman yang dilakukan saat ini untuk mengetahui keaslian data yang dimiliki oleh Helena Lim sehingga dapat mendapatkan vaksin. "Itu sesuai dengan edaran bahwa itu poinnya di situ, masalah datanya seperti apa tentu perlu pendalaman tentang kebenaran atau keaslian data," jelasnya.

Widyastuti mengungkapkan, dalam proses pelaksanaan vaksinasi terhadap tenaga kesehatan, Dinkes DKI mengikuti edaran dari Kementerian Kesehatan. Namun, ia mengakui adanya masalah terkait pendataan digital terhadap tenaga kesehatan yang menjadi sasaran penerima vaksin.

"Kita mengikuti sesuai edaran dari Kementerian Kesehatan karena kita tahu sempat ada masalah proses tidak smooth-nya masalah digital," ungkap dia.

"Seperti contoh, saya di awal mendapatkan undangan (vaksin Covid-19) melalui SMS blast, tapi pada saat perjalanannya, ada beberapa kendala sehingga tim pusat memutuskan assignment hall bisa dilakukan," imbuhnya.

Sebelumnya, nama Helena Lim menjadi perbincangan di jagat maya setelah ia mengunggah video dirinya menerima vaksin Covid-19 di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Padahal ia diketahui merupakan pemilik sebuah apotek dan tidak masuk dalam prioritas tenaga kesehatan yang menerima vaksin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement