Rabu 10 Feb 2021 19:50 WIB

Korsel akan Setujui Penggunaan Vaksin AstraZeneca

Korsel mengizinkan penggunaan vaksin tersebut pada orang berusia 65 tahun atau lebih

Red: Nur Aini
Presiden Moon Jae-in memegang botol vaksin Covid-19 saat kunjungannya ke pabrik SK Bioscience Co di tenggara Andong, Korea Selatan, 20 Januari 2021.
Foto: EPA
Presiden Moon Jae-in memegang botol vaksin Covid-19 saat kunjungannya ke pabrik SK Bioscience Co di tenggara Andong, Korea Selatan, 20 Januari 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan akan memberikan persetujuan pertamanya untuk vaksin Covid-19 kepada AstraZeneca, dan mengizinkan penggunaan vaksin tersebut pada orang berusia 65 tahun atau lebih.

Regulator akan memberikan otorisasi darurat vaksin AstraZeneca dengan syarat perusahaan harus menyerahkan hasil uji klinis lengkapnya, kata Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip dalam konferensi pers, Rabu (10/2).

Baca Juga

"Namun, kami telah menambahkan langkah pencegahan untuk keputusan hati-hati untuk penggunaan suntikan pada orang tua berusia 65 tahun ke atas," kata Kim.

Beberapa negara Eropa telah memperingatkan bahwa suntikan tersebut hanya boleh diberikan kepada mereka yang berusia 18 hingga 64 tahun, dan kekhawatiran semacam itu mengancam akan membatalkan rencana Korea Selatan untuk memprioritaskan penduduk lanjut usia dan pekerja medis pada putaran pertama vaksinasi.

Pada Senin (8/2), pihak berwenang berusaha meyakinkan warga lanjut usia setelah panel penasihat mendesak agar berhati-hati atas penggunaan vaksin AstraZeneca untuk orang yang berusia di atas 65 tahun karena kurangnya data.

AstraZeneca dan kepala uji klinis untuk Universitas Oxford di Inggris, yang ikut mengembangkan vaksin, mengatakan vaksin itu memicu respons kekebalan yang baik pada orang tua. Dosis yang disetujui untuk Korea Selatan diproduksi oleh SK bioscience, cabang pembuat obat dari SK Chemicals.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengatakan vaksinasi akan dimulai pada 26 Februari dengan sekitar 1,5 juta dosis vaksin AstraZeneca, cukup untuk 750 ribu orang. Program itu akan menginokulasi sekitar 10 juta orang berisiko tinggi hingga Juli, dan bertujuan untuk mencapai kekebalan kelompok pada November.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement