Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Apa yang Terjadi pada Tubuh Usai Teguk Minuman Berkarbonasi?

Rabu 10 Feb 2021 15:29 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti

Minuman berkarbonasi (ilustrasi).

Minuman berkarbonasi (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Jika tak ada tambahan pemanis, minuman karbonasi tidak berdampak negatif pada gigi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada pengalaman yang sangat menyenangkan dari mengonsumsi minuman berkarbonasi. Gelembungnya seolah meledak di mulut dan rasanya yang juga enak di lidah membuat minuman ini banyak disukai.

Namun, bagaimana sebenarnya efek dari minuman ini terhadap tubuh? Berikut beberapa hal yang terjadi pada tubuh seperti dilansir di laman Eat This, Rabu (10/2):

1. Lebih terhidrasi

Bertentangan dengan naluri awal manusia, ternyata minuman karbonasi tidak berdampak negatif pada hidrasi. Sebagian besar minuman berkarbonasi ternyata masih berfungsi sebagai pelepas dahaga, termasuk minuman jenis soda.

Meskipun minuman berbuih dapat menghidrasi, bukan berarti minuman itu sehat. Ahli gizi Sharon Katzman merekomendasikan untuk menghindari minuman apa pun yang memiliki jumlah natrium maupun jumlah gula yang tinggi. 

2. Pencernaan membaik

Minuman berkarbonasi dapat membantu proses pencernaan, mulai dari menelan hingga menghilangkan sembelit. Dokter darurat Kristin Hughes menjelaskan bahwa minuman berbuih dikenal karena kemampuannya untuk meningkatkan kualitas menelan.

"Kami benar-benar menggunakan minuman berkarbonasi di UGD untuk membantu memindahkan makanan saat pasien datang untuk mendapatkan makanan atau merasa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan mereka," kata dr Hughes.

3. Sebabkan kembung

Merasakan perut kembung termasuk efek samping karbonasi secara langsung. Minuman berkarbonasi mengandung karbondioksida terlarut. Dr Hughes mengatakan proses itu menjadi gas saat memanas pada suhu tubuh di saluran pencernaan.

Mengonsumsi minuman berkarbonasi dapat menyebabkan peningkatan sendawa atau kembung saat perut menyesuaikan diri dengan akumulasi gas karbon dioksida. Bagi penderita sindrom iritasi usus besar, penumpukan gas ini adalah kondisi buruk. 

4. Merasa lebih lapar

Ketika meneguk minuman berkarbonasi, pernahkah tiba-tiba kembali ke lemari es, mencari sesuatu untuk dimakan? Sebenarnya ada alasan ilmiah untuk hal itu.

"Air berkarbonasi dapat meningkatkan ghrelin, hormon yang membuat Anda merasa lapar," ujar Leann Poston, mengutip sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus dan siswa laki-laki.

Sementara penelitian tersebut membutuhkan pembuktian lebih lanjut sebelum sebab-akibat dapat dikonfirmasi secara resmi, ahli gizi terdaftar Morgyn Clair memberikan wawasan tambahan tentang salah satu minuman berkarbonasi yaitu soda. Menurut dia, soda diet atau soda bebas gula dapat menyebabkan beberapa orang menginginkan makanan tidak sehat lainnya.

"Meskipun hal ini tidak berlaku untuk semua orang, banyak orang yang terus-menerus mengonsumsi minuman manis sehingga menyebabkan keinginan untuk mengemil lebih banyak camilan manis sepanjang hari," jelasnya.

5. Melindungi gigi asal tidak ada tambahan pemanis

Hanya ada satu cara yang benar-benar aman untuk melindungi gigi dari keasaman berbahaya yang dapat menyebabkannya terkikis dengan mengonsumsi minuman. Dengan PH yang sepenuhnya netral, segelas air adalah alat yang ampuh untuk mencegah kerusakan gigi dan juga mengatur ulang PH di mulut, menurut dokter gigi Orange County Joyce Kahng.

 

Jika tidak ada tambahan pemanis, minuman berkarbonasi tidak akan berdampak negatif pada gigi. Sebaliknya, jika memilih minuman berkarbonasi tanpa pemanis akan sangat bermanfaat bagi gigi dalam meminimalkan paparan kerusakan dari gula yang tidak perlu. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA