Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Jadi Mualaf Berhijab, Gadis New York Dikira Siti Maryam

Rabu 10 Feb 2021 09:52 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: A.Syalaby Ichsan

Mualaf/Ilustrasi

Mualaf/Ilustrasi

Foto: Republika/Mardiah
Orang-orang di Spanyol terperangah melihat kecantikan Liz

REPUBLIKA.CO.ID, Elizabeth Stuard atau akrab di sapa Liz kini telah menjadi bagian dari komunitas Muslim Now York. Ia telah menjadi mualaf dengan bimbingan para temannya yang beragama Muslim dan Imam Besar Masjid New York asal Indonesia Ustaz Shamsi Ali.

Ada banyak kisah yang menarik tentang awal perjalanan Liz menemukan cahaya Islam. Termasuk ujian yang dihadapinya ketika keluarganya mengetahui ia masuk Islam. Kisah Liz diceritakan oleh Ustaz Shamsi Ali melalui akun YouTube resminya Imam Shamsi Ali yang tayang pada Selasa (9/2) malam. 

Liz dulunya adalah seorang mahasiswi di Columbia University New York. Ketika kuliah, dia berteman dengan mahasiswa-mahasiswi Muslim dari berbagai negara di Timur Tengah seperti Pakistan, Bangladesh dan lainnya. Ia pun kerap berdiskusi tentang Islam dengan teman-teman Muslimnya itu. Liz sangat tertarik mempelajari Islam, bahkan ia  mencoba untuk menggunakan hijab meski tak serapih wanita Muslim pada umumnya. Liz kemudian mencoba mengikuti kelas kajian Islam yang diisi oleh Ustaz Shamsi Ali. 

"Ketika pertama kali datang ke kelas saya, Elizabeth sudah memakai jilbab secara rapi. Maka saya kira dia perempuan keturunan Libanon, Palestina atau Suriah. Karena wajahnya sangat mirip dengan orang-orang keturunan tanah Syam. Memang berkulit putih dan sangat bersih, saya kira dia adalah seorang Muslim," kata ustaz Shamsi Ali.

Di kelas itu, Liz melontarkan sejumlah pertanyaan yang sangat dasar tentang Islam. Ia menanyakan tentang bagaimana caranya sholat? Bagaimana berpuasa? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ustaz Shamsi Ali pun bertanya kepada Liz tentang apakah Liz belum pernah belajar Islam?

Liz menjelaskan, dia adalah seorang non muslim bernama Elizabeth dan sangat tertarik mempelajari Islam. Liz pun mempelajari Islam beberapa bulan bersama bimbingan Ustaz Shamsi Ali. Hidayah Allah pun turun kepada Liz hingga ia memutuskan memeluk Islam. "Beliau belajar Islam empat sampai lima bulan lebih dan akhirnya dia bersyahadat," kata dia.

Sejak itu, Liz  semakin haus untuk mempelajari Islam lebih dalam. Ia pun tak menolak ketika ada kesempatan yang ditawarkan Ustaz Shamsi Ali untuk menemani dalam diskusi antar agama yang berlangsung di Sevilla Spanyol. Liz yang sudah menjadi wanita Muslim kini telah berhijab lebih rapi dari sebelumnya. Ketika berada di Spanyol banyak orang-orang memandanginya yang mengenakan hijab. Dengan postur Liz yang tinggi semampai, bermata biru, dan berkulit putih, orang-orang non Muslim di Spanyol terperangah dengan penampilan Liz. Ada diantara mereka yang bahkan bertanya kepada Liz: "Apakah anda Maria yang turun ke bumi?" Liz menjawabnya dengan canda,"Ya, saya Maria ibunya Jesus." 

Meski Liz telah menjadi mualaf, dia masih merahasiakan identitasnya sebagai Muslim kepada keluarga besarnya. Liz adalah keturunan campuran dari seorang ayah yang berasal dari Belanda dan Ibunya berasal dari Ukraina. Hampir setahun lebih Liz menyimpan rahasia tentang identitasnya sebagai Muslim.

Hingga suatu saat ayah Liz berulang tahun dan mengundangnya untuk datang menghadiri pesta. Dalam pesta itu, orang tua Liz menghidangkan makanan-makanan dan minuman yang diharamkan  dalam syariat Islam seperti daging babi dan alkohol.

Liz sama sekali tak menyentuhnya. Hingga memancing tanya kedua orang tuanya. Liz kemudian mengatakan, ia telah berpindah agama. Awalnya ibu Liz tak begitu kaget karena mengira putrinya berpindah agama ke Yahudi. Namun demikian, Liz menjelaskan bahwa dirinya telah bersyahadat dan masuk Islam.

Hal itu membuat kedua orang tuanya kaget. Bahkan adik Liz meresponnya dengan mengatakan pada Liz bahwa kakaknya itu tak akan mendapatkan suami  kecuali di Timur Tengah. Satu keluarga itu pun menolak Liz yang telah menjadi Muslim. Bahkan Liz harus menghadapi ujian besar ketika keluarganya mengusirnya dari rumah.

Liz menerimanya dengan ikhlas. Liz berhasil menyelesaikan kuliahnya di Columbia University. Ia memang mendapatkan beasiswa selama kuliah karena berhasil menjadi juara dalam kejuaraan renang antar remaja se-Amerika. Kini hidup Liz lebih damai. Liz kokoh dalam Islamnya dan ia pun menjalani rutinitas sebagai seorang konsultan di salah satu perusahaan telekomunikasi di Amerika. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA