Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Ini Penyebab Gerakan Tanah Tol Cipali Hasil Kajian PVMBG

Selasa 09 Feb 2021 18:55 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Petugas memeriksa kondisi jalan tol yang ambles di ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 122, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (9/2/2021). Jalan tol Cipali KM 122 amblas pada hari Selasa (9/2) pukul 03.00 dinihari dan mengakibatkan penutupan jalan serta pemberlakuan lawan arah mulai dari KM 117 sampai KM 126.

Petugas memeriksa kondisi jalan tol yang ambles di ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 122, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (9/2/2021). Jalan tol Cipali KM 122 amblas pada hari Selasa (9/2) pukul 03.00 dinihari dan mengakibatkan penutupan jalan serta pemberlakuan lawan arah mulai dari KM 117 sampai KM 126.

Foto: Antara/M Agung Rajasa
Ruas Jalan Tol Cipali KM 122 berada pada wilayah dengan potensi gerakan tanah Rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gerakan tanah terjadi di Jalan Tol Cikopo- Palimanan (Cipali) KM 122, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, Selasa 9 Februari 2021. Tepatnya,  terjadi di Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 122, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. 

Secara geografis berada pada koordinat 6 0 32' 55" LS dan 107 0 53' 27" BT. Bencana tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 WIB.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani, dari hasil analisisnya, penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirkan terjadi karena beberapa hal. Pertama, karena kemiringan lereng yang tidak terlampau curam sehingga gerakan tanah relatif lambat.

Kedua, kemungkinan material timbunan yang kurang padu atau mudah tererosi. Pengaruh dari erosi air permukaan (air hujan maupun aliran sungai) di kaki lereng mengingat lokasinya yang berada tidak jauh dari sungai besar.   

"Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah," ujar Andiani dalam keterangan resminya.

Andiani mengatakan, pihaknya memberikan beberapa rekomendasi terkait pergerakan tanah itu. Karena mengingat curah hujan yang masih tinggi dan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar.

Adapun rekomendasi tersebut, kata dia, adalah segera memperbaiki badan jalan yang retak dan amblas agar lalu lintas di jalan tol kembali normal. Kedua, segera menutup retakan dan dipadatkan agar air tidak meresap ke dalamnya yang dapat mempercepat pergerakan, mengarahkan aliran air permukaan agar menjauhi area retakan, membuat perkuatan lereng di tepian badan jalan yang berada dekat dengan sungai untuk mengurangi laju erosi dan meningkatkan kestabilan lereng.

"Perlu penyelidikan geologi teknik sebagai landasan untuk perkuatan lereng (bor pile/sheet pile)," katanya.

Selain itu, kata dia, pengalihan arus kendaraan agar terus dilakukan hingga perbaikan jalan selesai dan tidak tampak adanya pergerakan tanah susulan.

Rekomendasi lainnya, kata dia, melakukan pemantauan terhadap area retakan, jika retakan berkembang dan bertambah luas agar segera menutup jalan dan mengalihkan kendaraan yang melintas (contra-flow). Lalu, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah beserta gejala yang mengawalinya.

photo
Foto udara jalan tol ambles di ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 122, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (9/2/2021). Jalan tol Cipali KM 122 ambles pada hari Selasa (9/2) pukul 03.00 dini hari dan mengakibatkan penutupan satu jalur arah Cirebon-Jakarta. - (Antara/M Agung Rajasa)
 
"Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/ aparat pemerintah daerah setempat," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA