Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Tahun 2021, BCA Targetkan Pertumbuhan Kredit Enam Persen

Senin 08 Feb 2021 19:18 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Bank BCA

Bank BCA

Foto: Republika/Friska
Tercatat sepanjang 2020, rata-rata kredit BCA tumbuh 4,7 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Central Asia Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar enam persen pada tahun ini. Hal ini sejalan stimulus pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) pandemi covid-19.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menilai saat ini pemerintah sudah melakukan kinerja melalui stimulus yang diberikan kepada industri jasa keuangan. “Target tahun ini kredit bisa tumbuh sekitar empat persen sampai enam persen,” ujarnya saat konferensi pers paparan kinerja BCA secara virtual, Senin (8/2).

Baca Juga

Tercatat sepanjang 2020, rata-rata kredit tumbuh 4,7 persen sedangkan total fasilitas kredit bisnis meningkat persen. Namun adanya pelemahan aktivitas bisnis, maka fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga per akhir Desember 2020 total kredit turun 2,1 persen menjadi Rp 575,6 triliun. 

“Maka demikian, secara konsolidasi total kredit sebesar Rp 588,7 triliun atau melemah 2,5 persen,” ucapnya.

Meski menghadapi sejumlah tantangan, menurutnya, BCA dan entitas anak mampu mencatatkan pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar 11,2 persen menjadi Rp45,4 triliun. Hal ini ditopang oleh peningkatan likuiditas, biaya dana yang lebih rendah, dan perlambatan belanja operasional. 

Dari sisi pembiayaan, kredit korporasi meningkat sebesar 7,7 persen menjadi Rp 255,1 triliun, kredit komersial dan UKM menurun 7,9 persen menjadi Rp 186,8 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, KPR turun 3,7 persen menjadi Rp 90,2 triliun, KKB terkontraksi 22,6 persen menjadi Rp 36,9 triliun, dan saldo outstanding kartu kredit turun 20,6 persen menjadi Rp11,2 triliun. 

Secara total, kredit konsumer terkontraksi 10,8 persen menjadi Rp 141,2 triliun. Penurunan outstanding pada segmen konsumer tersebut disebabkan oleh tingkat pelunasan (repayment) yang lebih tinggi dibandingkan pemberian fasilitas kredit baru. Dari total portofolio kredit sekitar 21,6 persen atau Rp 127,2 triliun merupakan portofolio kredit keuangan berkelanjutan dalam rangka mendukung implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG).

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA