Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Permukaan Laut Diprediksi Naik 0,61 Meter pada 2100

Senin 08 Feb 2021 12:23 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Dwi Murdaningsih

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Foto: PxHere
Permukaan laut mungkin akan naik lebih cepat daripada prediksi kebanyakan model iklim

REPUBLIKA.CO.ID, NEWYORK -- Permukaan laut mungkin akan naik lebih cepat daripada prediksi kebanyakan model iklim menurut sebuah studi baru. Studi itu ada dalam makalah yang diterbitkan 2 Februari di jurnal Ocean Science.

Pada 2019, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengatakan rata-rata permukaan laut global kemungkinan akan naik setidaknya 0,61 meter pada tahun 2100, tetapi tidak lebih dari 1,10 m. Angka-angka tersebut berasal dari model yang memperhitungkan perubahan iklim dan pemanasan laut, emisi gas rumah kaca yang sedang berlangsung, dan potensi perubahan dalam perilaku manusia untuk mencegah lebih banyak pemanasan.

Baca Juga

Dalam studi baru ini, peneliti mengkaji model permukaan laut melalui lensa data historis. Mereka melihat seberapa cepat permukaan laut naik di masa lalu saat Bumi menghangat dan memperkirakan untuk memprediksi kenaikan permukaan laut pada waktunya.

Mereka menemukan model permukaan laut yang ada cenderung menurunkan kenaikan permukaan laut jika dibandingkan dengan ekstrapolasi yang lebih langsung dari catatan sejarah.  "Perbandingan ini menunjukkan bahwa kemungkinan proyeksi permukaan laut di permukaan laut dalam laporan IPCC baru-baru ini akan terlalu rendah," tulis makalah dalam jurnal Ocean Science dilansir dari Live Science pada Senin (8/2).

Matematikawan Universitas Wake Forest, Kaitlin Hill menyatakan model iklim saat ini memperhitungkan faktor-faktor seperti perubahan es dan tutupan awan, jumlah panas matahari yang diserap oleh lautan, dan semua jenis fisika lainnya. Tapi, para peneliti kini harus memperhitungkan data historis. Laporan Hill dalam jurnal Ocean Science memang tidak terlibat dalam laporan IPCC.

"Jika Anda membuat model iklim yang baik, maka Anda memasukkan semua proses fisik yang dapat Anda pikirkan ke dalamnya dan menjalankannya untuk periode waktu yang sama saat kami memiliki data historis, model tersebut secara kasar akan meniru apa yang sebenarnya terjadi," ujar Hill.

Hill menjelaskan proses ini lebih dikenal sebagai "hindcasting," dimana menjadi tes kunci dari kegunaan model. Sementara itu, Joellen Russell selaku ahli kelautan di University of Arizona (juga tidak terlibat dalam makalah terbaru ini), tidak mengherankan menemukan bahwa model iklim penting yang digunakan oleh IPCC. Menurutnya, IPCC mungkin meremehkan kenaikan permukaan laut.

"Model lain telah diperlihatkan menggunakan hindtesting untuk meremehkan historis kenaikan permukaan laut," ujar Russell.

Russell menyampaikan para ahli sudah cenderung memprediksi tingkat kenaikan permukaan laut yang jauh melampaui prediksi IPCC. Para peneliti lebih sejalan dengan apa yang disarankan oleh metode baru untuk mempelajari kenaikan permukaan laut di masa depan.

"Dan model yang ada tidak memperhitungkan efek pencairan lapisan es pada kenaikan permukaan laut," ucap Russell.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA