Senin 08 Feb 2021 08:28 WIB

Utang Perusahaan Inggris ke Bank Capai Rp 683 Triliun

Sebagian besar utang tersebut dikucurkan sejak dimulainya pandemi pada Maret 2020.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha
ilustrasi:utang - Sepanjang 2020, perbankan Inggris telah memberikan pinjaman hingga 35,5 miliar poundsterling atau Rp 683 triliun (kurs Rp 19.257/ poundsterling) kepada perusahaan. Sebanyak 34,7 miliar poundsterling di antaranya dipinjamkan sejak dimulainya pandemi pada Maret.
Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
ilustrasi:utang - Sepanjang 2020, perbankan Inggris telah memberikan pinjaman hingga 35,5 miliar poundsterling atau Rp 683 triliun (kurs Rp 19.257/ poundsterling) kepada perusahaan. Sebanyak 34,7 miliar poundsterling di antaranya dipinjamkan sejak dimulainya pandemi pada Maret.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sepanjang 2020, perbankan Inggris telah memberikan pinjaman hingga 35,5 miliar poundsterling atau Rp 683 triliun (kurs Rp 19.257/ poundsterling) kepada perusahaan. Sebanyak 34,7 miliar poundsterling di antaranya dipinjamkan sejak dimulainya pandemi pada Maret.

Menurut penelitian baru oleh EY Item Club, pinjaman senilai 26 miliar poundsterling lainnya diperkirakan akan diberikan hingga akhir tahun ini. Selain itu, banyak perusahaan diperkirakan tidak mungkin memulai pembayaran hingga 2024.

Baca Juga

Seperti dilansir di Yahoo Finance, Senin (8/2), realisasi pinjaman tahun lalu setara dengan 25 miliar poundsterling lebih tinggi dibandingkan rata-rata pinjaman selama lima tahun sebelumnya atau masa pra pandemi.

Bagi perusahaan, pinjaman dari bank, termasuk pinjaman yang didukung oleh pemerintah terkait pandemi Covid-19, sangat penting untuk menjalankan aktivitas bisnis mereka. Khususnya bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang melihat pinjaman ini sebagai sesuatu hal yang vital.

Setelah lockdown nasional ketiga Inggris, diperkirakan banyak bisnis tidak mungkin mulai membuat terobosan untuk membayar kembali utangnya hingga 2024. Covid-19, dan tahapan pembatasan aktivitas berikutnya, juga berdampak besar pada pinjaman bank untuk rumah tangga.

Pada 2020, pinjaman bersih melalui kartu kredit dan pinjaman pribadi berubah negatif, turun 9,9 persen. Realisasi ini merupakan penurunan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1994.

Selain itu, meskipun permintaan kredit konsumen diperkirakan akan memasuki wilayah positif pada 2021, permintaan tersebut hanya akan meningkat kecil. Diproyeksikan, pertumbuhannya hanya di level 2,1 persen.

Tapi, untuk pembelian dalam skala besar yang berkontribusi terhadap pinjaman konsumen, diperkirakan masih akan lemah. Beberapa rumah tangga akan membiayai kebutuhan ini dengan menggunakan tabungan, bukan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa rebound pada pinjaman konsumen masih tetap lemah.

Laporan EY ITEM Club for Financial Services memperkirakan, stok kredit konsumen akan tumbuh 2,1 persen pada tahun ini, menjadi 206 miliar poundsterling. Ini mencerminkan prospek pengangguran yang meningkat dan berlanjutnya kehati-hatian konsumen.

Sementara itu, pinjaman hipotek tetap stabil. Pertumbuhannya diperkirakan mencapai 2,3 persen tahun ini, turun dari tiga persen pada 2020. Angka-angka perkiraan ini dibuat dengan asumsi bahwa kondisi Covid-19 dan kebijakan lockdown berikutnya memiliki dampak yang cukup besar terhadap pinjaman bank untuk rumah tangga.

Angka-angka perkiraan ini dibuat berdasarkan skenario, lockdown saat ini berlangsung selama kuartal pertama 2021 dan akan dilonggarkan saat program vaksinasi diluncurkan yang memungkinkan perekonomian dibuka kembali.

Managing partner layanan keuangan Inggris di EY, Anna Anthony, mengatakan, kemampuan dunia usaha yang sulit untuk membayar utang harus menjadi fokus banyak pihak. Selain kerugian pinjaman yang meningkat, bank harus bersaing dengan margin bunga yang menurun selama setahun dan pelemahan pinjaman konsumen. Di sisi lain, perusahaan asuransi juga menghadapi tantangan yang besar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement