Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

'Ada 4.000 Varian Virus Penyebab Covid-19 di Seluruh Dunia'

Kamis 04 Feb 2021 18:11 WIB

Red: Friska Yolandha

Terdapat sekitar 4.000 varian virus yang menyebabkan Covid-19 di seluruh dunia sekarang. Sehingga semua produsen vaksin seperti Pfizer dan AstraZeneca sedang berupaya memperbarui vaksin buatan mereka

Terdapat sekitar 4.000 varian virus yang menyebabkan Covid-19 di seluruh dunia sekarang. Sehingga semua produsen vaksin seperti Pfizer dan AstraZeneca sedang berupaya memperbarui vaksin buatan mereka

Foto: AP / Daniel Cole
Manufaktur berupaya memperbarui vaksin mereka agar siap menghadapi varian Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Terdapat sekitar 4.000 varian virus yang menyebabkan Covid-19 di seluruh dunia sekarang. Sehingga semua produsen vaksin, seperti Pfizer dan AstraZeneca sedang berupaya memperbarui vaksin buatan mereka

Menteri Pengadaan Vaksin Inggris, Nadhim Zahawi, mengatakan, ribuan varian dari jenis virus corona penyebab Covid-19 telah dilaporkan saat virus bermutasi. Varian itu termasuk yang disebut varian Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil yang terlihat lebih mudah menyebar dibanding yang lain.

"Kemungkinan besar tidak seperti itu bahwa vaksin saat ini tidak akan ampuh melawan varian-varian (virus), baik varian di Kent atau varian lainnya, terutama jika berhubungan dengan penyakit parah dan rawat inap," katanya kepada Sky.

"Semua manufaktur, Pfizer-Biontech, Moderna, Oxford-AstraZeneca, dan lainnya sedang mencari cara untuk memperbarui vaksin mereka guna memastikan bahwa kita siap menghadapi varian apa pun, ada sekitar 4.000 varian di seluruh dunia sekarang," ia melanjutkan

Ketika ribuan varian muncul saat virus bermutasi saat replikasi, hanya minoritas yang sangat kecil yang kemungkinan menjadi penting dan mengubah virus secara signifikan, menurut jurnal medis Inggris.

"Kita memiliki industri terbesar dalam mengurutkan genom, kita mempunyai sekitar 50 persen dari industri sekuens genom dunia, dan kita menjaga koleksi semua varian, sehingga kita siap untuk merespons apakah di musim gugur atau setelahnya tantangan apa pun di mana virus kemungkinan muncul dan menghasilkan vaksin selanjutnya," kata Zahrawi.

Virus corona yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai SARS-CoV-2 telah menelan 2,2 juta korban jiwa di seluruh dunia sejak kemunculannya di China pada akhir 2019, menurut Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA