Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

500 Desa di Jabar Rawan Bencana Hidrometeorologi

Kamis 04 Feb 2021 16:30 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Warga mengamati kondisi pascabanjir bandang yang melanda Kampung Gunung Mas, Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Ilustrasi

Warga mengamati kondisi pascabanjir bandang yang melanda Kampung Gunung Mas, Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021). Ilustrasi

Foto: ANTARA FOTO
BPBD menyebut 500 desa rawan bencana tersebut tersebar di seluruh wilayah Jabar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat mencatat, ada 500 desa masuk kawasan berpotensi atau rawan mengalami bencana hidrometeorologi. Ratusan desa itu tersebar di hampir di seluruh wilayah kabupaten/kota di Jabar.

Bencana hidrometeorologi adalah dampak yang dipicu kondisi cuaca dan iklim tertentu seperti peningkatan dan kekurangan curah hujan, suhu dan cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat disertai angin kencang dan lain sebagainya. Bencana dapat berupa banjir atau longsor.

"Hampir di seluruh kota/kabupaten, tapi yang paling banyak di Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor karena disesuaikan dengan jumlah wilayah kecamatan dan desanya, paling banyak di sana," ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdani, Kamis (4/2).

Untuk bagian timur, kata dia, ada di Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Sedangkan bagian utara ada di Subang, Karawang, dan Bekasi.

"Ya, yang kategori desa dengan potensi tinggi bencana itu dari 5.000 desa di Jabar, ada 500-an (desa)," kata Dani.

Untuk mengantisipasi dampak bencana tersebut, kata dia, BPBD Jabar pun bergerak membangun desa tangguh bencana. Hingga akhir Januari, sedikitnya 250 desa telah dibekali konsep dan peralatan untuk menghadapi bencana.

"Kita bangun baru 250-an, setengahnya. Kita buat percepatan untuk 250 desa yang lain dengan program fast track, kalau standar Destana BNPB itu ada 16 indikator," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA