Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

6 Sastrawan Terima Penghargaan Anugerah Sastera Rancage 2021

Selasa 02 Feb 2021 09:56 WIB

Red: Hiru Muhammad

Yayasan Kebudayaan Rancagé mengumumkan 6 Sastrawan pemenang Penghargaan Anugerah Sastera Rancagé ke 33, yang kali pertama diselenggarakan secara daring dikantor Melsa.net Bandung pada Minggu, 31 Januari 2021.

Yayasan Kebudayaan Rancagé mengumumkan 6 Sastrawan pemenang Penghargaan Anugerah Sastera Rancagé ke 33, yang kali pertama diselenggarakan secara daring dikantor Melsa.net Bandung pada Minggu, 31 Januari 2021.

Foto: istimewa
Bahasa daerah diharapkan masuk kurikulum nasional secara lisan atau tulisan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Yayasan Kebudayaan Rancagé mengumumkan 6 Sastrawan pemenang Penghargaan Anugerah Sastera Rancagé ke 33, yang kali pertama diselenggarakan secara daring dikantor Melsa.net Bandung pada Minggu, 31 Januari 2021. 

Keenam pemenang itu ialah Dadan Sutisna  untuk Sastera Sunda dengan Novel berjudul Sasalad, Supali Kasim mewakili sastera jawa dengan Kumpulan Puisi yang berjudul Sawiji Dina Sawiji Mangsa, untuk Sastera Bali ada kumpulan Cerpen Berjudul Nglekadang Mèmè karya Komang Berata, Sastera Lampung ada kumpulan puisi karya Elly Dharmawanti dengan Judul Dang Miwang Miku Ading, Sastera Madura ada kumpulan Puisi berjudul Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG, dan terakhir ada Risnawati Pemenang Hadiah Samsudi dengan karya cerpen anak yang berjudul Pelesir Ka Basisir. 

Penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancage kali ini pun untuk kali pertama tanpa dihadiri sosok penggagas acara tersebut, Ajip Rosidi yang sudah tutup usia. 

Dalam sambutannya, Erry Riyana Hardjapamekas selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage berharap kepada pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, agar Anugerah  Sastera Rancage ini dapat menjadi indikator untuk menempatkan bahasa daerah dalam kurikulum nasional, setidaknya bagi bahasa-bahasa daerah yang hidup secara lisan dan tulisan.  

"Selama ini posisi bahasa daerah berada dalam kurikulum lokal yang sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah, padahal bahasa daerah memiliki peran penting sebagai penggali kearifan lokal yang memperkuat kebudayaan nasional," ungkap eks Wakil Ketua KPK tersebut. 

Sementara itu dalam kesempatannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa Kemendikbud menempatkan kemajuan bahasa sebagai program prioritas melalui badan pengembangan dan pembinaan atau Badan Bahasa. 

"Secara konsisten kami menyelenggarakan program pelestarian bahasa daerah. Kami menyadari bahwa bahasa daerah yang selama ini terdata sebanyak 718 bahasa merupakan suatu aset bangsa kita. Kelangsungan hidup bahasa tersebut akan sangat bergantung pada para penutur dan masyarakat tuturnya," ujar Mendikbud. 

Lebih lanjut kata Nadiem, tahun ini Kemendikbud menargetkan ratusan karya berbahasa daerah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, agar khasanah kekayaan nusantara dapat dikenal luas. "Harapan kami cara seperti ini akan merawat kebhinekaan serta menumbuhkan apresiasi serta gotong royong guna membangun negeri ini," pungkasnya. 

Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan Kemendikbud yang turut hadir dalam acara Anugerah Sastera Rancage tersebut melihat bahwa Bahasa daerah menjadi bahan baku peristilahan dalam perkembangannya. 

"Mengambil dari Bahasa daerah termasuk Bahasa sunda untuk menjadi bagian dari Bahasa Indonesia, kadang-kadang di tingkat yg lebih kompleks Bahasa daerah juga menjadi pertimbangan dalam menentukan tata Bahasa dan tentunya juga sebagai sarana pewarisan Khasanah Budaya, sebagai bagian penting dari bagian budaya nasional kita," terang pria yang akrab disapa Fay tersebut. 

Masih kata Hilmar, dirinya mengaku antusias terhadap program Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang sedang menginisasi kegiatan digitalisasi aksara lokal. "Inilah bagian yang menurut saya penting dan memang kita lihat dalam keadaan sekarang, yang sangat pesat perkembangannya. Bahasa Indonesia mulai bersaing dengan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di berbagai kalangan.

Maka kita membutuhkan solusi yang lebih permanen untuk menempatkan Bahasa daerah di dalam kehidupan kita kembali Bahasa daerah kita," tutup Hilmar. 

Dalam kata sambutannya, Yudho Giri Sucahyo ketua PANDI merespons pagelaran acara Anugerah Sastera Rancage kali ini. "PANDI akan terus siap untuk berkolaborasi dengan yayasan kebudayaan Rancage karena PANDI juga punya kegiatan MIMDAN (Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara) dan kalo kita bicara aksara tentu tidak bisa dilepaskan dari bahasa dan bahasa tidak bisa dilepaskan dari budaya," tutur Yudho.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA