Senin 01 Feb 2021 16:34 WIB

Ekonom: Tren Inflasi 2021 Bisa Lebih Tinggi dari 2020

Inflasi 2020 hanya 1,68 persen yang merupakan terendah sepanjang sejarah.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
 Nelayan menurunkan hasil tangkapannya dari kapal setelah kembali melaut di Pelabuhan Ikan Tradisional Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/1). Ekonom Center for Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, tren inflasi pada tahun 2021 berpeluang lebih tinggi dari tahun lalu yang mencatat rekor terendah.
Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Nelayan menurunkan hasil tangkapannya dari kapal setelah kembali melaut di Pelabuhan Ikan Tradisional Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/1). Ekonom Center for Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, tren inflasi pada tahun 2021 berpeluang lebih tinggi dari tahun lalu yang mencatat rekor terendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Center for Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, tren inflasi pada tahun 2021 berpeluang lebih tinggi dari tahun lalu yang mencatat rekor terendah. Pasalnya, permintaan konsumen diyakini membaik pada tahun ini setelah tertekan hampir satu tahun akibat pandemi virus corona.

"Seiring dengan target pertumbuhan ekonomi 4 persen sampai 5 persen, inflasi kemungkinan akan terkerek lebih tinggi. Tapi dengan asumsi pemulihan ekonomi yang ditargetkan benar terjadi," kata Yusuf kepada Republika.co.id, Senin (1/2).

Diketahui, inflasi sepanjang 2020 hanya 1,68 persen. Angka itu terendah sepanjang sejarah. Tahun ini, pemerintah menargetkan laju inflasi bisa berada pada level 3 plus minus 1 persen. Adapun pada Januari 2021, inflasi sebesar 0,26 persen, lebih rendah dari Januari maupun Desember 2020.

Ia mengatakan, kenaikan inflasi diyakini meningkat karena adanya peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa. Seperti misalnya pada kelompok bahan pangan yang tahun lalu mengalami penurunan permintaan akibat banyak pembatasan aktivitas sosial.

Adapun kenaikan harga saat ini yang dipicu oleh faktor cuaca dan bencana banjir di sejumlah daerah, merupakan faktor musiman. "Ini seasonal saja karena awal-awal tahun, saya pun tidak yakin masalah ini akan sepanjang tahun," ujarnya.

Lebih lanjut, Yusuf juga mengingatkan pemerintah agar dalam program vaksinasi nasional lebih terbuka kepada masyarakat. Program vaksinasi juga tetap harus diikuti dengan tes Covid-19 (testing), penelusuran kontak erat (tracing), dan tindak lanjut berupa perawatan pada pasien (treatment).

Sebab, hal itu akan berkaitan langsung dengan tingkat kepercayaan konsumen. Kepercayaan konsumen tentunya turut berpengaruh kepada laju permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. "Kita berharap kepercayaan masyarakat akan kembali itu sebabnya vaksinasi tidak boleh jalan sendiri, harus dibarengi dengan kebijakan yang lain," kata Yusuf.

Sementara itu, Deputi Kementerian Koordinator Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan, polanya inflasi pada Januari biasanya lebih rendah dari desember. Laju inflasi 2021 sebesar 0,26 persen dinilainya sudah cukup tinggi.

"Ini berarti permintaan sudah meningkat pada masa Covid-19," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement