Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Inflasi Inti Tahunan 1,56 Persen, BPS: Terendah Sejak 2004

Senin 01 Feb 2021 12:47 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

 Nelayan menarik jala mereka tak lama setelah kembali dari melaut di pelabuhan tradisional Alue Naga, di Aceh, Indonesia, 26 Januari 2021. Laju inflasi pada Januari 2021 sebesar 0,26 persen.

Nelayan menarik jala mereka tak lama setelah kembali dari melaut di pelabuhan tradisional Alue Naga, di Aceh, Indonesia, 26 Januari 2021. Laju inflasi pada Januari 2021 sebesar 0,26 persen.

Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Rendahnya inflasi menunjukkan tingkat permintaan masyarakat terhadap barang rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laju inflasi pada Januari 2021 sebesar 0,26 persen. Dengan angka itu, laju inflasi secara tahunan (year on year/yoy) dari Januari 2021 terhadap Januari 2020 sebesar 1,56 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi inti yoy tersebut terendah sejak tahun 2004 silam.

"Ini terendah sejak BPS pertama kali menghitung inflasi inti tahun 2004," kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam video conference, Senin (1/2).

Baca Juga

Mengutip data BPS, inflasi inti yoy pada Januari 2020 lalu cukup tinggi yakni sebesar 2,88 persen. Adapun sepanjang 2020, inflasi inti secara yoy terendah terjadi pada bulan Desember yakni 1,60 persen.

Selain secara tahunan, inflasi inti secara bulanan (month to month/mtm) juga cukup rendah. Pada Januari 2021 hanya sebesar 0,14 persen, lebih rendah dari posisi Januari 2020 yang sebesar 0,19 persen. Suhariyanto mengatakan, rendahnya inflasi menunjukkan tingkat permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa masih rendah.

Itu tidak terlepas dari dampak tekanan pandemi virus corona yang membuat krisis ekonomi di sejumlah negara. "Memasuki Januari 2021, dampak Covid-19 masih belum reda," katanya.

Suhariyanto menyampaikan, seluruh masyarakat bersama pemerintah harus bekerja sama dalam upaya pemulihan ekonomi. "Itu menunjukkan sisi permintaan masih sangat lemah dan tentunya ini berpengaruh ke konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu kita harus kerja sama untuk pulihkan Indonesia," kata katanya menambahkan.

Menurutnya, program vaksinasi tentu diharap bisa memulihkan kembali situasi perekonomian. Namun, dibutuhkan dukungan masyarakat dengan kepatuhan tinggi terhadap protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA