Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Khofifah: NU Memiliki Semangat yang Lengkap

Senin 01 Feb 2021 05:41 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan HUT KORPRI ke-49 di Surabaya, Ahad (29/11).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan HUT KORPRI ke-49 di Surabaya, Ahad (29/11).

Foto: Humas Pemprov Jatim
NU bisa menjadi pionir untuk bangkit mengaplikasikan komitmen kebangsaan.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, Nahdlatul Ulama yang telah memasuki usia ke-95 telah menjelma menjadi organisasi yang semakin matang secara pemikiran, peran, dan kontribusinya bagi umat serta masyarakat. Menurutnya, NU tidak semata-mata menegakkan syiar agama Islam dan akidah Aswaja.

NU juga memiliki semangat nasionalisme. Semangat atau spirit mewujudkan kemandirian ekonomi sebagai bekal untuk melawan kolonialisme. 

"Semangatnya NU ini lengkap. Motivasi agama dan mempertahankan akidah Aswaja diwujudkan dengan banyaknya pesantren dan lembaga pendidikan berbasis agama. Motivasi ini masih relevan hingga sekarang. NU melahirkan banyak intelektual Muslim di Indonesia," kata Khofifah di Surabaya, Ahad (31/1). 

Baca Juga

Khofifah mengatakan, NU tidak lahir bergitu saja. Organisasi ini lahir atas dasar istikhoroh para Kiai di zaman itu. Ada KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH As’ad Syamsul Arifin, serta kiai lainnya. Beberapa literasi mengisahkan embrio berdirinya NU sekitar 1924 hingga 1925.

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan gagasan pendirian Jam’iyyah. KH. Hasyim Asy’ari tidak langsung menyetujui.

Kiai Hasyim Asy'ari tidak memutuskan sesuatu sebelum melaksanakan istikharah. Begitu juga dengan lahirnya NU pada 1926, tidak lepas dari istikharah para kiai pada masa itu.

Gambaran sejarah itu, kata Khofifah, menunjukkan NU memiliki kelebihan tersendiri. Yakni pengambilan keputusan untuk melahirkan sebuah organisasi tidak lepas dari meminta pentunjuk Allah.

"Tentu saja, motivasi positif tertanam pada organisasi tersebut. Motifasi itu, antara lain motivasi agama, membangun nasionalisme, serta mempertahankan akidah ahlussunnah wal jamaah (Aswaja)" ujar Khofifah. 

Motivasi membangun nasionalisme diwujudkan dengan komitmen kebangsaan yang kuat. Sebab, lahirnya NU tidak lepas dari rasa kebersamaan untuk melawan pejajah. Para Kiai sepuh yang memiliki fundamental pada pemahaman Aswaja mewarnai perjalanan menuju kemerdekaan.

"Komitmen kebangsaan dengan mengajak umat untuk bangkit melawan kolonial waktu itu. Semangat juang menggelora pada tubuh organisasi ini. Salah satunya dibuktikan dengan adanya Resolusi Jihad pada Oktober 1926," kata dia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA