Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

UMM - Kemenlu RI Gelar Debriefing Kepala Perwakilan RI

Ahad 31 Jan 2021 14:09 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia, Jumat (29/1).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia, Jumat (29/1).

Foto: dok. Humas UMM
Agenda tersebut diikuti lebih dari 800 peserta.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia pada Jumat (29/1). Agenda tersebut dihadiri langsung oleh Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, HE Priyo Iswanto, Rektor UMM Fauzan, Direktur Utama Amerika II, Darianto Harsono, serta jajaran pejabat kampus UMM.

Selain itu juga menghadirkan secara virtual Kepala BPPK Kemlu, Siswo Pramono. Pada agenda itu terdapat dua pembicara didapuk untuk mengisi forum. Yakni,  Duta Besar LBBP RI untuk Republik Bolivar Venezuela HE Mochammad Luthfie Witto’eng dan Duta Besar LBBP RI untuk Republik Mozambik, HE Tito Dos Santos Baptista.

Agenda yang diikuti lebih dari 800 peserta itu dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Siswo Pramono. Ia menjelaskan, agenda ini menjadi wadah penyampaian pertanggungjawaban publik bagi para kepala perwakilan Indonesia, khususnya yang telah menyelesaikan pengabdiannya di luar negeri.

Diharapkan forum ini bisa menyajikan informasi terkait pelaksanaan visi dan misi yang sudah diamanatkan kepada para kepala perwakilan.  “Pada acara-acara seperti ini, kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan langsung dari para pakar, akademisi dan masyarakat,” jelasnya, dalam keterangan pers yang diterima Republika, Sabtu (30/1).

Pada kesempatan sama, Rektor UMM, Fauzan menegaskan, debriefing yang terlaksana tentu dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait kondisi wilayah di mana para duta besar bertugas. Ia menilai ada berbagai hal menarik dan penting yang bisa ditindak lanjuti. Hal ini sejalan dengan banyaknya ide yang nantinya dikerjakan bersama dengan negara-negara tersebut.

Usai sambutan, debriefing dimulai dengan paparan materi dari Mochammad Luthfie Witto’eng terkait wilayah di mana ia mengabdi, utamanya Venezuela. Ia mengatakan, Venezuela mengalami rentetan krisis,  mulai dari krisis politik hingga ekonomi.

Ketegangan antara pemerintah dan oposisi masih terus berlangsung, hingga puncaknya Juan Guaido naik menjadi presiden interim, padahal Maduro masih menjadi presiden bagi Venezuela. Negara tersebut juga tak lepas dari krisis ekonomi.

Meski dikenal sebagai salah stu negara dengan penghasil minyak terbesar, mereka tidak bisa lari dari jeratan krisis ekonomi. Salah satu penyebabnya terkait nasionalisasi perusahaan minyak yang diberikan kepada pihak tak berkompeten.

Selain itu, ketersediaan subsidi yang terlampau besar membuat masyarakat menjadi manja. Pada akhirnya ketika harga minyak turun, krisis ekonomi menerpa Venezuela. "Subsidi dikurangi, utamanya pada aspek kesehatan,” ungkap Luthfie.

Meski demikian, KBRI Indonesia masih terus berusaha untuk menjalin kerja sama. Kedua negara sempat menggelar business meeting yang mendorong pengusaha Venezuela untuk membangun hubungan perdagangan dengan Indonesia. Namun krisis ekonomi belum berakhir apalagi dalam kondisi pandemi sehingga tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal.

Forum tersebut kembali dilanjutkan dengan paparan dari Tito Dos Santos Baptista. Ia menggambarkan tantangan, dinamika, dan kondisi politik serta ekonomi Mozambik dan Malawi. Meski kedutaan di Mozambik baru dibuka pada 2009, mereka sudah memberikan peningkatan kualitas kerja sama.

Ia menilai aspek ekonomi khususnya investasi harus lebih didorong lagi agar bisa memberi dampak lebih. Tito berharap Mozambik bisa menjadi pintu masuk untuk produk-produk Indonesia ke negara-negara tetangga di Afrika.

Di samping itu, Mozambik juga bisa menjadi negara strategis mengingat dukungannya terhadap Indonesia di PBB yang cukup baik. Tak lupa sektor budaya yang perlu dikembangkan lagi karena dapat membantu kerja sama di bidang-bidang lainnya.

Pada akhir forum, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa, Ben Perkasa Drajat, menyimpulkan ada banyak hal menarik yang sudah disampaikan oleh kedua pemateri. Hal-hal tersebut bisa diteliti dan dikaji lebih lanjut agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

"Sebut saja hubungan ekonomi yang malah semakin baik antara Indonesia dan Venezuela, padahal berada di tengah situasi pandemi,” jelas dia.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA