Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Khittah NU 1926 dan Nahdliyyin di Pusaran Politik

Ahad 31 Jan 2021 09:06 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Subarkah

Gus Dur, KH Ahmad Shiddiq, KH As

Gus Dur, KH Ahmad Shiddiq, KH As

Foto: Nu online
Harlah NU: Khittah 1926 dan Nahdliyyin di Pusaran Politik

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 2021 ini memperingati Hari Lahirnya (Harlah) dengan tema "Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan." Tepat pada tanggal itu pula, NU genap berusia 95 tahun merujuk pada tahun Masehi.

Lantas, dalam konteks perpolitikan nasional, bagaimana NU mengambil peran? Apakah Khittah NU 1926 masih relevan untuk saat ini atau sudah mengalami perubahan? Terkait hal ini, Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fachry Ali, memberi pandangannya yang dimulai dari Khittah NU 1926.

Dia mengatakan, Khittah NU 1926 itu lahir pada Muktamar tahun 1984 di Situbondo, sebagai usaha untuk mencari tempat lain yang lebih selamat dari kekuasaan Orde Baru. Karena itu, menurutnya, Khittah tersebut justru merupakan tindakan politik untuk menghindar dari kekuasaan Orde Baru.

"Isi khittah itu dibuat seakan-akan Khittah itu adalah Khittah 1926. Padahal sebelumnya pada 1952 NU itu sudah menjadi partai politik, setelah keluar dari Masyumi," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA