Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Harlah NU ke-95

Harlah NU ke-95, Kiprah, dan Tantangan Masa Depan

Sabtu 30 Jan 2021 06:41 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

Harlah NU ke-95, Kiprah, dan Tantangan Masa Depan. Foto: (ilustrasi) logo nahdlatul ulama

Foto:
Harlah NU ke-95 menunjukkan kiprah dan tantangan NU ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof Sukron mengatakan patut diakui bahwa NU berhasil mengembangkan pendidikan berbasis kitab kuning, bahkan para tokoh ulama NU pun produktif menulis kitab. Sehingga selain melalui Al Quran dan Hadita, warga Nahdliyin pun lebih mudah dalam mencari sumber keterangan dan rujukan untuk menjelaskan berbagai persoalan agama.

Pada sisi lain, NU menjadi organisasi yang berperan dalam integrasi Islam dan negara. Bahkan jelas Prof Sukron itu dilakukan NU sejak masa penjajahan Belanda, di mana NU mengeluarkan seruan agar warga Nahdliyin membela negara dari ancaman penjajah.

"Dan hingga hari ini, saya kira peran NU di dalam integrasi dengan negara masih menajdi pionir, selain Muhammadiyah yang saya kira menyatakan secara harfiah Indonesia NKRI ini sudah final itu adalah NU. NU dan Muhammadiyah di dalam konteks ini adalah jempolan. Dia berperan banyak di dalam bagaimana melakukan integrasi dengan negara, selain berperan juga di dalam integrasi sosial antara umat Islam paling tidak sesama NU. Bahkan juga hubungan NU dan Muhammadiyah kan belakangan sudah cukup baik, artinya NU juga mengembangkan ukhuwah Wathaniyah, persaudaraan sesama bangsa," jelasnya.

Meski demikian, Prof Sukron memberikan sejumlah masukan bagi NU agar dapat menjadi organisasi yang semakin baik dan memberikan lebih banyak kemaslahatan di masa mendatang. Prof Sukron menjelaskan selama ini tokoh-tokoh NU dikenal sangat kuat dalam mempertahankan nilai-nilai lama atau tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Namun demikian, menurutnya NU masih kurang dalam mengambil nilai-nilai baru atau modern yang baik dan tak bertentangan dengan ajaran Islam.

Prof Sukron juga menilai NU perlu lebih memperkuat dalam pengembangan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan NU selain dari pesantren. Pada sisi lain, menurutnya NU juga pelu melakukan revitalisasi dan pembedaan antar pesantren milik individu dan pesantren milik organisasi. Selain itu, NU juga masih memiliki tantangan dalam mengembangkan potensi ZISWAF warga Nahdliyin serta problematika pesantren yang mati suri karena tak adanya regenerasi pasca meninggalnya tokoh pesantren serta  masalah kesejahteraan para kiai pimpinan pesantren.

Menurut Prof Sukron NU sebenarnya memiliki banyak SDM berkualitas. Hanya saja, banyak warga Nahdliyin yang berkualitas tak memiliki kesempatan untuk berkiprah lebih jauh lantaran tidak berasal dari organisasi sayap NU semisal tidak berasal dari PMII.

"Pembedaan kader yang dari kader PMII dan non PMII  itu sebenarnya harus diberhentikan. Jadi sebanrnya NU punya sumber daya banyak kalau msialnya melibatkan kader-kader  NU yang itu tidak dibesarkan, tidak berproses di PMII. Selama itu hanay diberikan dari PMII itu akan membuat NU kehilangan sumber daya terbaiknya," katanya. A

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA