Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Sesat Pikir tentang Jilbab

Jumat 29 Jan 2021 07:05 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sekelompok siswa berjilbab di Jakarta pada tahun 1982 yang di larang masuk sekolah.

Sekelompok siswa berjilbab di Jakarta pada tahun 1982 yang di larang masuk sekolah.

Foto: Setiardi
Ada apa dengan jilbab?

REPUBLIKA.CO.ID, -- DR Anwar Mujahidin, Dosen Ilmu Tafsir IAIN Ponorogo

Masyarakat telah mengalami kesesatan berpikir dengan menganggap semua yang disampaikan oleh Alquran dan hadist Nabi sebagai ajaran Islam dan mempersempitnya sebagai aturan hukum (fiqih) yang wajib atau haram bagi pemeluknya.

Pakaian tertutup dilengkapi dengan jilbab dinilai sebagai ajaran Islam sehingga menjadi polemik ketika dipaksakan kepada yang tidak memeluk agama Islam. Kewajiban bagi pemeluk suatu agama tidak boleh diberlakukan, apalagi dipaksakan kepada pemeluk agama lain.

Agama menjadi urusan primordial dan eksklusif bagi pemeluknya. Memaksakan ajaran pada selain pemeluknya adalah merupakan sikap intoleran.

Ajaran Agama Islam (baca; Alquran) selain memiliki dimensi ekskulisif yang berisi aturan hukum yang mengikat pemeluknya, juga memiliki dimensi universal (rahmatan lil alamin) dan dimensi kontekstual. Dimensi universal adalah nilai-nilai ideal (ideal moral) yang merupakan dasar kebaikan dari kehidupan kemanusiaan tanpa membedakan keyakinan, suku, dan ras seseorang.

Nilai keadilan, kehormatan manusia, kemerdekaan adalah nilai-nilai universal yang diakui dan diperjuangkan oleh semua kalangan. Nilai-nilai tersebut juga bagian dari ajaran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut menjadi prinsip agama dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Baca juga : Bukan Arab, Ini Bahasa Masyarakat Arab Sebelum Islam Datang

Muncullah solusi-solusi yang berupa norma-noma sebagai jawaban untuk menyelasaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Dimensi normatif itulah yang menjadi konteks dari ajaran agama. Ajaran agama tidak hanya berisi doktrin yang tekstual, tetapi juga solusi-solusi atas berbagai persoalan yang bersifat kontekstual.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA