Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Benarkah Islam Antikearifan Lokal?

Kamis 28 Jan 2021 05:57 WIB

Red: Elba Damhuri

Batik: Akar sejarah batik tak lepas dari peran ulama di masa lalu untuk mengenalkan Islam

Batik: Akar sejarah batik tak lepas dari peran ulama di masa lalu untuk mengenalkan Islam

Wali Songo menyebarkan Islam di nusantara melalui tradisi dan budaya

Oleh : Muhammad E Fuady, Akademisi Fikom Unisba

RETIZEN -- Beberapa tahun lalu, saat mencuat isu agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, terpasang spanduk provokasi di beberapa sudut jalanan Jakarta. “Wayang kulit tak sesuai syariat Islam”, begitu isi spanduk tersebut. Siapa pemasangnya tak jelas. 

Tak ada yang tahu. Spanduk itu bisa dipasang oleh pihak yang kontra terhadap petahana, tak menutup kemungkinan pula dipasang oleh mereka yang pro, atau pihak lain yang ingin mengail di air keruh.

Baca Juga

Kali ini isu yang sama diusung oleh seorang pegiat media sosial, Arya Permadi yang sering mengidentikkan diri sebagai orang NU atau Banser. Dalam cuitannya, Islam adalah agama pendatang yang arogan, mengharamkan tradisi asli, wayang kulit diharamkan. Pernyataan Arya Permadi itu bagi muslim, lebih tampak sebagai fitnah terhadap agama. 

Karena ia sering menggunakan atribut organisasi yang berafiliasi pada NU, mau tidak mau NU terus menjadi sasaran. Nahdliyin tentu tak nyaman. Pernyataan Arya Permadi ini ahistoris.

Benarkah Islam menginjak-injak kearifan lokal? Betulkah wayang diharamkan dalam Islam? Padahal wayang sudah jelas merupakan media dakwah Wali Songo pada masanya. Tak ada yang dapat menyangkal peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam di nusantara melalui tradisi dan budaya.

Islam yang disebarkan tak membunuh adat istiadat dan budaya. Para wali mengemas tradisi dan budaya agar masyarakat tertarik memeluk Islam yang rahmatan lil Alamin.

Wayang adalah seni pertunjukan tradisional yang sangat populer di Jawa. Wayang kulit tumbuh berkembang di Jawa Tengah, sementara wayang golek hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda. Wayang yang telah ada sebelum masa Wali Songo, dilengkapi dengan alat musik oleh Sunan Kalijaga. 

Wayang menjadi seni pertunjukan yang paling diminati, tidak hanya di kalangan para elit dan priyayi, akan tetapi juga masyarakat umum atau wong cilik. Itulah hal yang melatari kenapa wayang menjadi media yang efektif dalam berdakwah.            

Seni pertunjukkan yang familiar di tengah masyarakat memang berpotensi dalam mentransmisi ide, gagasan, sekaligus informasi dan pesan dakwah. Nilai, paham, konsep, pandangan, yang bersumberkan agama Islam dipropagasi melalui seni pertunjukkan wayang. 

Dari sinilah muncul kreativitas para wali dengan menambahkan gamelan dan alat musik untuk membuat seni pertunjukkan semarak menarik perhatian (Sunyoto, 2018).

Koneksi antara agama dan seni adalah hal yang lumrah di Indonesia. Tumbuh dan berkembangnya agama Islam di nusantara melahirkan artefak-artefak kebudayaan yang khas. Bentuk arsitektur masjid, batu nisan, batik, peralatan upacara keagamaan, hingga media penyebaran agama. 

Wali Songo menggunakan bentuk dasar segitiga pada kubah masjid dan gugunungan pewayangan. Keduanya bila di balik menyerupai hati atau jantung. Maknanya, masjid adalah jantung untuk mendekat kepada Allah. Mendekat kepada Allah di masjid dengan ibadah dan amalan. 

Batik misalnya, menurut sejarawan Prof. Mansur Surya Negara (2013), disebut peninggalan para wali. Ia dinamakan batik sebagai pengingat “ba” adalah huruf yang ada titiknya. Kemudian dikenallah kain bermotif khas itu dengan sebutan batik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA