Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Dua Langkah Menkes Tekan Laju Penyebaran Pandemi

Selasa 26 Jan 2021 19:31 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Seorang petugas berjalan di antara kuburan di bagian khusus pemakaman Srengseng Sawah yang dibuka untuk menampung lonjakan kematian selama wabah virus corona di Jakarta, Indonesia. Pada Selasa (26/1), kasus positif Covid-19 menembus angka 1 juta.

Seorang petugas berjalan di antara kuburan di bagian khusus pemakaman Srengseng Sawah yang dibuka untuk menampung lonjakan kematian selama wabah virus corona di Jakarta, Indonesia. Pada Selasa (26/1), kasus positif Covid-19 menembus angka 1 juta.

Foto: AP/Dita Alangkara
Tanpa upaya 3T yang betul, mengandalkan vaksinasi saja tak bisa turunkan pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Rr Laeny Sulistyawati, Antara

Tembusnya sejuta kasus Covid-19 di Tanah Air menjadi cambuk bagi pemerintah untuk bekerja keras. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memastikan pihaknya berupaya mengoptimalkan pelaksanaan 3T, yakni tracing (pelacakan), testing (pemeriksaan), dan treatment (perawatan termasuk isolasi).

Ia menekankan bahwa upaya 3T sepenuhnya adalah tugas pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Di sisi lain, masyarakat punya tugas menjalankan protokol kesehatan 3M, yakni mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Budi menambahkan, optimalisasi pelaksanaan 3T yang dimaksud mencakup tracing atau penelusuran terhadap kasus positif Covid-19 sehingga menemukan kontak erat untuk dites. Dua poin ini, yakni tracing-testing menjadi langkah awal terpenting untuk menekan laju penularan.

"Kami di Kemenkes akan bekerja keras sangat keras untuk memastikan bahwa program testing, tracing, dan isolasi kita bisa lakukan, kita bisa eksekusi dengan baik," kata Budi dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (26/1).

Selain itu, Budi juga menambahkan bahwa pemerintah tetap mengupayakan tempat isolasi yang nyaman agar yang pasien Covid-19 bisa sembuh tanpa menulari orang lain. Poinnya, langkah 3T adalah jurus ampuh untuk menekan laju penularan.

Seiring dengan kenaikan jumlah kasus positif, jumlah penderita Covid-19 yang meninggal juga naik. Angkanya kini mencapai total 28.468 orang.

Kondisi hari ini, ujar Budi, kembali memaksa masyarakat Indonesia untuk terus disiplin menjalankan protokol kesehatan. Bila pemerintah berupaya mengoptimalkan 3T, Budi menambahkan, maka masyarakat perlu bersama-sama bekerja ekstra keras menjalankan protokol kesehatan 3M.

"Ini sangat susah, dan ini tidak bisa dilakukan seorang diri oleh pemerintah tanpa bersama-sama rakyat membangun gerakan disiplin ini," ujar Budi.

Upaya melakukan 3T oleh pemerintah dan 3M oleh masyarakat diharapkan Budi bisa manjur menekan laju pandemi. "Dua hal yang harus kita lakukan bersama-sama. Ada dua hal yang harus dikerjakan, kerja keras, sangat keras, dan ekstra keras bersama-sama," kata Budi.

Pada hari ini terjadi penambahan kasus Covid-19 sebanyak 13.094 orang, sehingga total kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1.012.350 orang. Terdapat penambahan pasien sembuh 10.868 orang, sehingga pasien sembuh menjadi 820.356 orang dan meninggal dunia bertambah 336 orang, sehingga menjadi 10.868 orang.

"Pertama untuk mengurangi laju penularan virus kita harus disiplin memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Ini sangat susah dan ini tidak bisa dilakukan seorang diri oleh pemerintah tanpa bersama-sama rakyat dan seluruh komponen bangsa membangun gerakan disiplin ini," tambah Budi.

Budi Gunadi mengakui bahwa kehidupan masyarakat di Indonesia pasca dan sebelum pandemi akan berbeda. "Kita harus memastikan, kita harus bekerja keras mengingatkan diri kita sendiri, mengingatkan teman-teman kita, mengingatkan keluarga kita dan seluruh rakyat yang ada di lingkungan kita agar kita disiplin protokol kesehatan, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak kita patuhi," kata Budi.



Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, tidak kaget dengan tingginya kasus Covid-19. Ia bahkan menyebut, seharusnya Indonesia bahkan sudah sejak beberapa bulan lalu menyentuh 1 juta kasus.

"Sudah saya prediksi, bahkan seharusnya 1 juta kasus itu sudah lama terjadi. Angka hari ini kan hanya yang terkonfirmasi, padahal yang terinfeksi namun tidak terdeteksi jauh lebih banyak," ujarnya saat dihubungi Republika.

Tanpa perubahan strategi yang dilakukan pemerintah, ia memprediksi tambahan kasus bisa terus terjadi bahkan bisa berlipat ganda. Ia meminta, bila pemerintah ingin melambatkan kasus maka pengetatan aktivitas masyarakat hingga 100 persen bisa dilakukan.

Kebijakan pembatasan ini, dia melanjutkan, sama seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat awal pandemi Maret 2020 lalu. Kemudian, ia meminta pemerintah Indonesia juga membuat perencanaan yang matang.

Selain itu, ia meminta presiden Joko Widodo yang memimpin langsung penanganan Covid-19. Ia tidak menyarankan komando di bawah Menko Perekonomian Airlangga Hartato atau Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Kemudian Pandu juga meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang memimpin upaya penanganan Covid-19 termasuk 3T yaitu tes, pelacakan dan tindak lanjut. "Jangan mengulangi kesalahan tahun lalu. Itu kalau ingin kasus harian Covid-19 tidak terus bertambah dengan cepat," ujarnya.

Jika penambahan kasus terus terjadi, ia menegaskan efeknya adalah tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang bebannya semakin berat. Kini, ia menegaskan kemauan ada di tangan Presiden apakah langsung melakukan tindakan gawat darurat untuk mengatasi hal ini.

Terkait vaksin untuk mengatasi pandemi, ia meminta pemerintah juga jangan hanya mengandalkan imunisasi. Ia meminta upaya 3T harus dilakukan lebih serius.

"Kalau berani berinvestasi pada vaksin maka harus berani investasi untuk dana dan tenaga yang memperkuat 3T. Sebab kalau Presiden hanya mengandalkan vaksin untuk menekan kasus harian yang sudah 1 juta lebih agak susah," katanya.

Pandu mengaku ragu vaksin untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) dan mengatasi pandemi bisa segera dilakukan. Ia sangsi kecepatan pemberian vaksinasi untuk 181,5 juta jiwa bisa diwujudkan dalam 15 bulan. "Menurut saya tidak mungkin. Sekarang saja lamban banget proses imunisasinya," katanya.

photo
Daftar 52 Kabupaten Kota yang masuk zona merah pekan ini - (Republika)



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA