Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Puisi Malam Pertama di Alam Kubur Syekh Aidh Al-Qarni  

Selasa 26 Jan 2021 19:15 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Syekh Aidh Al-Qarni menulis puisi tentang malam pertama di alam kubur . Ilustrasi alam kubur

Syekh Aidh Al-Qarni menulis puisi tentang malam pertama di alam kubur . Ilustrasi alam kubur

Foto: ANTARA/FIKRI YUSUF
Syekh Aidh Al-Qarni menulis puisi tentang malam pertama di alam kubur 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ada dua malam yang harus selalu dibayangkan  setiap Muslim. Pertama adalah malam bersama keluarga dengan penuh kenikmatan, kedua adalah malam pertama di alam kubur.

Syekh Aidh Al-Qarni dalam buku Sentuhan Spiritual menjabarkan mengenai puisi tentang kematian dan kehidupan di malam pertama alam kubur:

"Aku telah terpisah dari tempat tidurku. Satu hari, diam (akan) pisah dariku. Kubur adalah malam pertama. Demi Allah, katakan padaku apa yang terjadi."

Baca Juga

Dua malam yang pasti akan dilalui manusia, perlu untuk direnungkan. Yakni satu malam di rumah, bersama anak-anak dan keluarga dalam keadaan penuh nikmat dan kebahagiaan, kehidupan yang nyaman, dinaungi kesehatan, serta dipenuhi tawa bahagia. 

Adapun di malam pertama yang lain, malaikat maut akan datang. Kemudian diletakkannya seorang hamba di dalam kubur dalam keadaan seorang diri.

Syekh Aidh Al-Qarni mengingatkan pada setiap hamba tentang apa yang dirasakan setiap hamba di alam kubur. Sebab, Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al-An’am ayat 62: 

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ “Tsumma ruddu ilalahi maulahumul-haqqi, ala lahul-hukmu wa huwa asra’ul-haasibin.” 

“Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dia-lah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.” 

Syekh Aidh Al-Qarni menuturkan kembali puisi malam pertama di alam kubur:

"Malam pertama di alam kubur. Ulama menangis karena (kabar)-nya. Orang-orang bijak mengadu tentangnya, dan di dalamnya akan disusun semua susunan. Maka, kepada Allah kupasrahkan perhiasanku pada hari aku meninggalkan ketaatan. Anak-anakku dengan kedua orang tuaku dan rumahku. Mereka berkata: ‘jangan engkau menjauh’, sedang mereka menguburkanku. Dan, di manakah tempat yang jauh kecuali tempatku."

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA