Selasa 26 Jan 2021 18:49 WIB

Kapten Polisi Rusia Minta Maaf Atas Kebrutalan Aparat Selama Demo Pro-Navalny

Kapten Polisi Rusia minta maaf atas kebrutalan aparat pada unjuk rasa pro-Navalny.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Dmitri Lovetsky/AP Photo/picture alliance
Dmitri Lovetsky/AP Photo/picture alliance

Pada hari Minggu (24/1), stasiun televisi Rusia Ren-TV menyiarkan rekaman yang dibuat dengan dengan smartphone dan isinya sangat tidak biasa: video itu menunjukkan seorang petugas aparat keamanan di St Petersburg meminta maaf kepada Margarita J., 54 tahun, yang ditendang di perutnya sehari sebelumnya dalam aksi protes kalangan oposisi untuk mendukung Alexei Navalny.

Pria berpakaian seragam dan bermasker itu kemudian menyerahkan bunga kepada seorang perempuan yang sedang dirawat di rumah sakit. Polisi itu mengatakan insiden tersebut adalah "tragedi pribadi" baginya. Margarita J. lalu menjawab: "Jangan khawatir, semua orang masih hidup."

Media Rusia memberitakan, kapten polisi itu memang sengaja mengunjungi korban kekerasan aparat untuk meminta maaf atas insiden tersebut.

Kebrutalan aparat saat aksi demo

Margarita J. pada hari Sabtu (23/1) berada di jalan utama Nevsky Prospect, ketika ribuan warga di sana berkumpul untuk menuntut pembebasan pemimpin oposisi Alexei Navalny yang menurut mereka ditahan aparat secara ilegal. Dia ketika itu melihat penangkapan seorang pria dan menemui petugas untuk mencari tahu apa yang telah dilakukan pria itu. Tanpa peringatan sebelumnya, salah seorang petugas tiba-tiba menendang perutnya.

Tendangan petugas itu membuat Margarita jatuh dan terluka kepalanya. Dia kemudian dibawa di rumah sakit. Pada hari itu, ada ribuan peserta aksi protes yang ditangkap polisi.

Rekaman video serangan terhadap Margarita J yang dibuat oleh seseorang dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kemarahan publik. Beberapa pihak sekarang bahkan menuntut petugas tersebut untuk dimintai pertanggungjawaban.

Perubahan dalam masyarakat?

Boris Vishnevsky, anggota parlemen di Majelis Legislatif St Petersburg dan anggota partai oposisi Jabloko, mendesak pihak berwenang Rusia untuk melakukan penyelidikan.

"Ini adalah penyalahgunaan wewenang yang brutal," kata Vishnevsky kepada DW. "Saya berharap kasus ini dibawa ke pengadilan."

Tapi peluang untuk itu sangat kecil. Kekerasan polisi terhadap pengunjuk rasa adalah hal yang lumrah di Rusia, apalagi terhadap oposisi. Boris Vishnevsky mengaku agak terkejut, petugas polisi tersebut mengunjungi Margarita J. Ini mungkin menunjukkan "perubahan di masyarakat: warga mulai marah dan kurang setia terhadap kepemimpinan."

(hp/ )

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement