Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Dekan FKUI Kritisi Penanganan Covid-19

Rabu 27 Jan 2021 00:02 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Covid-19. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengkritisi upaya pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Ilustrasi Covid-19. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengkritisi upaya pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Foto: Pixabay
Perlu evaluasi pembatasan sosial karena belum efektif mengendalikan jumlah kasus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengkritisi upaya pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Ia merasa upaya pemerintah tak punya arah yang jelas.

Dokter Ari pertama menyinggung soal tidak ada perbedaan dalam kehidupan masyarakat di masa pandemi. Ia memantau kemacetan masih terjadi, kecuali pada malam tahun baru karena beberapa kota melakukan penjagaan ketat hingga polisi dan tentara turun ke jalan.

"Kenapa kondisi penjagaan yang ketat ini tidak terus dipertahankan terutama pada malam hari, agar kita bisa mengurangi kasus dulu, rem dan gas harus benar-benar diterapkan," kata Ari dalam keterangan pers yang diterima Republika, Selasa (26/1).

Ari juga mencermati istilah yang berganti-ganti dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Istilah Orang Tanpa Gejala (OTG), Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) turut berganti menjadi suspek, kontak erat dan konfirmasi.

"Saya tidak mau berandai-andai, tetapi memang dari awal istilah locked down atau karantina wilayah seperti tabu untuk digunakan atau dijalankan," ujar Ari.

Ari menyayangkan pula lemahnya penegakan hukum dalam penanganan pandemi. Menurutnya, penegakan hukum tidak dilakukan secara masif dan konsisten. Kondisi ini dianggapnya berbeda dari negara lain.

"Sedihnya pelanggar protokol Kesehatan dilakukan oleh para tokoh politik atau tokoh masyarakat yang harusnya menjadi health influencer malah sebaliknya memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat," ucap Ari.

Selain itu, Ari menyoroti cakupan vaksinasi masih rendah karena ada kegagalan registrasi. Namun menurutnya, masalah ini disadari oleh Kemenkes hingga terlihat upaya memperpendek prosesnya agar pemberian vaksin dapat dilaksanakan dengan cepat.

"Walaupun begitu, masyarakat harus tetap konsisten dalam melaksanakan protokol kesehatan khususnya 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak," sebut Ari.

Ari merasa bingung dengan arah pengendalian Covid-19. Ia mengingatkan perlu evaluasi pembatasan sosial karena belum efektif mengendalikan jumlah kasus yang masuk satu juta hari ini.
 
"Pandemi yang awalnya diperkirakan berakhir dalam 1 tahun, tetapi kenyataannya setelah 1 tahun, tanda-tanda berakhirnya pandemi belum dapat diprediksi," tutur Ari.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA