Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Sering Diare Disertai Darah, Perlu Curiga Kanker Kolorektal

Selasa 26 Jan 2021 15:37 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Penyakit diare (ilustrasi). Saat Anda mengalami diare, sembelit terus menerus, disertai feses berdarah sebaiknya perlu curiga ini tanda kanker kolorektal atau kanker yang terjadi pada bagian kolon (bagian terpanjang pada usus besar) atau rektum (area akhir usus besar sebelum anus).

Penyakit diare (ilustrasi). Saat Anda mengalami diare, sembelit terus menerus, disertai feses berdarah sebaiknya perlu curiga ini tanda kanker kolorektal atau kanker yang terjadi pada bagian kolon (bagian terpanjang pada usus besar) atau rektum (area akhir usus besar sebelum anus).

Foto: xamthon.net
Ahli meminta diare dan sembelit disertai darah tidak hanya dianggap ambeien

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat Anda mengalami diare, sembelit terus menerus, disertai feses berdarah sebaiknya perlu curiga ini tanda kanker kolorektal atau kanker yang terjadi pada bagian kolon (bagian terpanjang pada usus besar) atau rektum (area akhir usus besar sebelum anus).

"Pada usus besar, air diserap sehingga kotoran atau feses menjadi berbentuk dan tidak berair. Mereka yang terkena diare, umumnya mengalami gangguan dalam penyerapan air di usus besar. Adanya radang pada bagian itu menghambat penyerapan cairan," kata Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM, Dr. dr. Ikhwan Rinaldi.

Akibatnya, penderita kanker kolorektal bisa mengalami diare atau sembelit berulang dan menemukan ada darah di feses yang sebaiknya tak semata dicurigai sebagai ambeien.

"Setiap orang penampakan kanker usus besarnya berbeda-beda. Dari genetikanya dilihat. Secara kasat mata, ada benjolan atau tumor ganas berada di usus besar yang menyebabkan sumbatan di saluran cerna, tetapi dia bisa menyebabkan perdarahan di sana dan sebagainya," tutur Ikhwan.

Dari sisi awal mula terjadinya, sel yang awalnya normal lalu terpajan berbagai hal seperti zat kimia dan ini menyebabkannya berubah yang dimulai dari DNA atau gennya.

Biasanya setelah perubahan gen baru terlihat perubahan pada bentuk lalu terjadi pembelahan terus menerus dan banyak. Sel ini tidak mati saat sudah berusia tua sehingga jumlahnya bertambah dan membentuk benjolan.

"Kadang benjolan ini bisa kita temukan di permukaan tubuh kita jadi bisa kita raba. Tetapi kadang ada di dalam tubuh sehingga tak bisa diraba dan jika jumlahnya banyak maka akan menimbulkan gangguan pada fungsi organ (yang sel-selnya tak normal)," ujar Ikhwan.

Apabila benjolan bertambah besar, suatu saat bisa menyumbat perjalanan kotoran (feses). Lain halnya bila benjolan ini rapuh, maka bisa menyebabkan perdarahan pada kotoran.

"Orang dengan kanker usus besar seringkali ditemukan bergejala dengan tersumbat atau kadang diare, atau kadang buang air besar berdarah," tutur Ikhwan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA