Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Ahli: Kucing dan Anjing Perlu Vaksinasi Covid-19

Rabu 27 Jan 2021 01:10 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Kucing peliharaan. Berdasarkan studi dalam jurnal PLOS Computational Biology, hewan yang lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2 adalah kucing, anjing, musang, dan musang luwak (civet).

Kucing peliharaan. Berdasarkan studi dalam jurnal PLOS Computational Biology, hewan yang lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2 adalah kucing, anjing, musang, dan musang luwak (civet).

Foto: ANTARA/Maulana Surya
Sebagai tindakan pencegahan kucing dan anjing juga perlu divaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ahli mengungkapkan, virus corona bisa menginfeksi berbagai hewan peliharaan. Banyak ahli berpendapat yang menyarankan untuk memberikan vaksinasi pada hewan peliharaan, sebagai bentuk pencegahan risiko penyebaran virus lebih lanjut.

Para ahli dari University of East Anglia, Earlham Institute, dan University of Minnesota, menulis dalam jurnal Virulence mengenai evolusi lanjutan dari virus pada hewan. Dari hewan, virus berpotensi menular ke manusia hingga menimbulkan risiko jangka panjang signifikan bagi kesehatan masyarakat.

"Mungkin tidak terpikirkan bahwa vaksinasi beberapa spesies hewan peliharaan ini diperlukan demi mengekang penyebaran infeksi," ungkap mereka.

Tahun lalu, pemerintah Denmark memusnahkan jutaan cerpelai setelah terungkap bahwa ratusan kasus Covid-19 di negara itu berkaitan dengan varian dari budidaya cerpelai. Profesor genetika evolusi di Uni Emirate Arab (UEA), Cock van Oosterhout, mengatakan, anjing dan kucing dapat tertular virus corona. Di lain sisi, tidak ada kasus yang ditularkan dari kucing dan anjing ke manusia.

"Masuk akal untuk mengembangkan vaksin bagi hewan peliharaan, hanya sebagai tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko ini. Apa yang kita butuhkan sebagai manusia, kita benar-benar harus siap untuk segala kemungkinan ketika datang Covid-19,” ungkap mereka.

“Saya pikir cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mempertimbangkan pengembangan vaksin untuk hewan juga. Menariknya, Rusia sudah mulai mengembangkan vaksin untuk hewan peliharaan, yang informasinya masih sangat sedikit,” tutur peneliti.

Pemimpin redaksi Virulence, Kevin Tyler, mengatakan, kucing tidak menunjukkan gejala, tetapi mereka terinfeksi oleh corona dan mereka dapat menginfeksi manusia. Dia mengatakan, jika peduli dengan hewan peliharaan atau hewan pendamping, maka kita mungkin akan berpikir tentang cara memvaksinasi mereka untuk menghentikan penularan yang bisa saja terjadi.

Prof van Oosterhout dan Prof Tyler menulis temuan itu bersama dengan direktur Earlham Institute Neil Hall dan Hinh Ly dari University of Minnesota.

“Evolusi virus yang berlanjut pada inang hewan reservoir, diikuti oleh peristiwa spillback ke inang manusia yang rentan, menimbulkan risiko jangka panjang yang signifikan bagi kesehatan masyarakat,” tulis para ilmuwan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA