Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Xi Jinping Minta Pemimpin Global tak Picu Perang Dingin

Selasa 26 Jan 2021 11:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Presiden China Xi Jinping telah memperingatkan para pemimpin global agar tidak memulai Perang Dingin baru. Ilustrasi.

Presiden China Xi Jinping telah memperingatkan para pemimpin global agar tidak memulai Perang Dingin baru. Ilustrasi.

Foto: EPA
Xi Jinping mendesak persatuan dalam menghadapi pandemi virus corona

REPUBLIKA.CO.ID, DAVOS -- Presiden China Xi Jinping telah memperingatkan para pemimpin global agar tidak memulai Perang Dingin baru. Dia mendesak persatuan dalam menghadapi pandemi virus corona dalam Forum Ekonomi Dunia virtual, Senin (25/1).

"Untuk membangun kelompok kecil atau memulai Perang Dingin baru, menolak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain, hanya akan mendorong dunia ke dalam perpecahan," kata Xi.

Xi mengatakan konfrontasi akan selalu berakhir dengan merugikan kepentingan setiap negara dan mengorbankan kesejahteraan rakyat. Dia menawarkan multilateralisme sebagai jalan keluar dari tantangan saat ini.

"Kita harus membangun ekonomi dunia yang terbuka, membuang standar, aturan, dan sistem yang diskriminatif dan eksklusif dan menghilangkan hambatan perdagangan, investasi, dan pertukaran teknologi,” kata Xi dalam pidato sekitar 25 menit.

Dikutip dari Aljazirah, Xi pun menjelaskan G20 yang merupakan forum internasional yang mengelompokkan 19 negara berkembang dan terbesar, ditambah Uni Eropa harus diperkuat sebagai forum utama untuk tata kelola ekonomi global. Dia mendesak dunia harus terlibat dalam koordinasi kebijakan makroekonomi yang lebih erat.

Komunitas internasional, menurut Xi, harus diatur sesuai dengan aturan dan konsensus yang dicapai oleh semua negara, bukan dengan satu atau beberapa perintah yang mengeluarkan. Meski tidak menyebut nama negara, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump membuat ketegangan memanas antara kedua negara. Masalah mulai dari perdagangan dan teknologi hingga Hong Kong, Xinjiang, dan virus corona.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA