Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Lafran Pane: HMI, Masyumi, Hingga Teladan Nabi Muhammad

Selasa 26 Jan 2021 08:49 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Prof. Lafran Pane (x) di antara sejawat dan juniornya.

Foto:
Keteladanan pahlawan nasional pendiri HMI Prof Lafran Pane.

Pandangan Lafran

Rumah Lafran Pane dengan tempat kos saya di Jl. Mrican Gang Sambu No. 3 yang juga berfungsi sebagai Sekretariat HMI Korkom IKIP Yogya relatif dekat. Bahkan, kami sama-sama satu jamaah Masjid Al-Falah.

Di masjid kampung itu--masjid milik masyarakat, bukan masjid kampus--Lafran Pane tercatat sebagai salah seorang khatib. Seingat saya, Lafran Pane tidak pernah "bolos" dari jadwal yang telah ditetapkan.

Meskipun berkhutbah di masjid kampung, Lafran Pane tidak pernah terlihat memakai sarung. Dia selalu bercelana panjang warna hitam atau cokelat dan berbaju putih. Takmir masjid pun tidak pernah memprotes penampilan Lafran Pane itu.

Suatu hari, kami shalat Idul Adha di Lapangan IKIP. Imam dan khatib adalah sejawat Lafran sesama guru besar di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogya. Sejawat Lafran Pane itu tampil dengan gamis panjang lengkap dengan serban yang dililitkan di kepala. Mirip dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh para bangsawan Arab.

Di perjalanan pulang, Lafran Pane berbicara pelan, "Apa pula kawan itu, mengimami shalat Idul Adha di Indonesia, kok memakai pakaian Arab."

Lafran memang dikenal dengan pandangannya yang memisahkan secara ketat mana perilaku Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam sebagai Nabi dan Rasul; mana pula perilaku Muhammad sebagai  manusia biasa.

Lafran, misalnya, punya pandangan yang khas tentang zakat dan pajak. Saya menduga, pandangan Lafran Pane itu memengaruhi pandangan K.H. Masdar Farid Mas'udi yang pernah menjadi mahasiswa Lafran di Fakultas Syariah IAIN Yogya. Wallahu'alam.

Menolak Jabatan

Karena tempat tinggal kami yang relatif dekat, saya pun relatif sering bersilaturahim ke rumah Lafran.

Dalam suatu obrolan, Lafran dengan ekspresi datar bercerita bahwa berdasarkan kebijakan rektor IKIP, mulai bulan itu dia tidak lagi mendapat tunjangan guru besar. Bahkan, tunjangan yang sudah telanjur dia terima, harus dikembalikan. Caranya? Ya, dengan memotong dari gaji yang dia terima setiap bulan.

Mendengar cerita itu, darah muda saya langsung naik. "Ini zalim. Tidak boleh dibiarkan. Rektor harus didemo. Hak Pak Lafran harus dikembalikan."

Sebagai informasi, pada 1974 terjadi unjuk rasa besar-besaran mahasiswa yang menuntut pengunduran diri Rektor IKIP Yogya, Prof. Sutrisno Hadi.

Karena ketika peristiwa demo besar itu di IKIP Yogya HMI adalah organisasi terbesar dan nyaris satu-satunya, Lafran Pane pun dianggap berada di belakang aksi para mahasiswa tersebut. Akibatnya, bekas dekan FKIS itu tidak boleh mengajar di kampusnya. Meskipun demikian, berdasarkan kebijakan Rektor Prof. Imam Barnadib, M.A., Ph.D, gaji dan tunjangan guru besar Lafran Pane tetap dibayar penuh.

Ketika Imam Barnadib diganti oleh Drs. St. Vembriarto, muncul kebijakan menghentikan tunjangan jabatan dan wajib mengembalikan yang sudah diterima.

Melihat kemarahan saya, Lafran Pane menenangkan.

Dia bercerita, dirinya baru pulang dari Sumatra Barat memenuhi suatu undangan. Di bandara dan di sepanjang perjalanan menuju tempat acara, Lafran melihat beberapa spanduk menyambut kedatangan dirinya. "Saya ini apalah," ujar Lafran, "disambut dengan spanduk, disediakan mobil dan hotel mewah oleh Gubernur Azwar Anas."

Sebagai orang yang tidak memiliki jabatan apa-apa, Lafran merasa berbahagia dan terhormat dengan penyambutan seperti itu. "Jadi," tegas Lafran menyambung pembicaraan, "kau jangan bikin macam-macam."

Tak lama kemudian, Lafran yang menerima saya di teras rumah dengan pakaian kebesarannya, sarung dan kaus oblong, beranjak masuk ke dalam.

Dari dalam rumah, dia membawa dua map. "Kau lihat dan baca," perintah Lafran.

Map itu berisi surat masing-masing dari perguruan tinggi di Sumatra dan Sulawesi. Kedua surat itu berisi permintaan agar Prof. Lafran Pane bersedia menjadi rektor.

"Jika saya mau, saya tinggal memilih mau jadi rektor di mana, tapi saya tidak mau. Jabatan itu adalah hak adik-adik saya yang sudah lama mengabdi di sana," kata Lafran sambil sekali lagi menambahkan bahwa dirinya sudah berbahagia dengan keadaannya sekarang.

"Ingat, kau jangan bikin masalah," kata Lafran saat saya pamit.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA