Selasa 26 Jan 2021 08:40 WIB

Mengapa Kopi Bikin Melek?

Kopi dipercaya sebagai kiat cepat hilangkan kantuk dan memicu rasa bahagia.

Wanita meminum kopi. Ilustrasi
Foto: Republika/ Wihdan
Wanita meminum kopi. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalau ngantuk, minumlah kopi. Wejangan yang mungkin masih kita dengar sampai sekarang. Kopi dipercaya sebagai kiat tercepat hilangkan kantuk. Ia juga mendongkrak semangat dan konsentrasi. Mengapa kopi bisa bikin melek dan berenergi?

Jawaban singkatnya: karena kafein. Senyawa ini memang identik dengan kopi. Kopi adalah kafein, kafein ya kopi. Itu kata sebagian orang. Seolah menggambarkan kalau unsur tersebut khusus dikandung kopi.

Kenyataannya, kafein juga terdapat pada minuman lain seperti cokelat, teh, minuman bersoda, dan minuman berenergi. Meski, bicara kadar, kopi termasuk tinggi.

Penelitian menyebut setidaknya terdapat 102-200 miligram kafein dalam segelas kopi  (takaran 240 mililiter). Pada secangkir espresso, dosisnya bisa lebih tinggi, sekitar 240-720 miligram. Bandingkan dengan minuman energi bertakaran sama, kandungan kafeinnya rata-rata 50–160 miligram.  

Lalu bagaimana cara kerja kafein bikin kita terjaga? Berikut penjelasannya:

Membajak Reseptor Kantuk

Kafein, setelah dikonsumsi, mampu terserap cepat dalam sistem pencernaan lalu masuk ke aliran darah. Dari sana ia mengembara ke organ hati dan terurai menjadi senyawa yang dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh lain. Salah satunya otak.

Kafein membajak reseptor adenosine. Adenosine adalah neurotransmiter, senyawa kimiawi dalam tubuh yang bertugas menyampaikan pesan antara satu sel saraf ke sel saraf tujuan, yang membuat otak merasa rileks dan tubuh merasa lelah.

Normalnya adenosine berbiak sejak Anda bangun tidur dan terus membanyak seiring waktu (biasanya seharian). Saat tiba waktunya, mereka menempel ke reseptor-reseptor khusus di otak dan memicu rasa lelah dan kantuk.

Nah, kafein menghalangi proses itu. Karena strukturnya mirip adenosin, senyawa kafein dapat menempel pada reseptor-reseptor adenosin di otak, tanpa mengaktifkan fungsinya. Karena banyak adenosine tidak menempel pada reseptor, bisa ditebak efeknya: rasa kantuk melemah.

sumber : Healthline (healthline.com)
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement