Senin 25 Jan 2021 13:28 WIB

Tujuh Pekan di Zona Merah, Depok Kembali Oranye

Depok melaporkan kembalil ke zona oranye Covid-19 setelah tujuh pekan di zona merah.

Rep: Rusdy Nurdiansyah/ Red: Yudha Manggala P Putra
Warga berjalan di depan mural dengan tema COVID-19 di halaman Balai Kota Depok, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/1/2021). Gubernur Jawa Barat menyatakan Kota Depok dan Kabupaten Karawang berstatus siaga 1 disebabkan selama sebulan berada di zona merah dalam risiko penularan COVID-19.
Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha
Warga berjalan di depan mural dengan tema COVID-19 di halaman Balai Kota Depok, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/1/2021). Gubernur Jawa Barat menyatakan Kota Depok dan Kabupaten Karawang berstatus siaga 1 disebabkan selama sebulan berada di zona merah dalam risiko penularan COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Kota Depok merilis peta risiko penyebaran Covid-19, Senin (25/1). Kota Depok hari ini dilaporkan turun dari zona merah (resiko tinggi) ke zona oranye (risiko sedang).

"Alhamdulillah, status Kota Depok kembali pada zona oranye, setelah selama tujuh minggu berada di zona merah," kata Juru Bicara GTPPC Kota Depok, Dadang Wihana di Balai Kota Depok, Senin (25/1).

Menurut Dadang, perubahan zona tersebut berdasarakan rilis dari Satgas Pusat per 24 Januari 2021, dengan indikator kesehatan masyarakat (Kesmas) yang ditetapkan. "Perhitungan zona risiko ini bersumber dari indikator Kesmas yang ditetapkan oleh Satgas Covid-19 Pemerintah Pusat," tegasnya.

Ia mengutarakan, saat ini kemampuan test di Kota Depok sudah cukup tinggi, yang diprioritaskan untuk kontak erat dan suspect. "Demikian pula dengan angka kesembuhan terus naik dan angka kematian menurun," terang Dadang.

Namun, lanjut Dadang, mengimbau agar warga masyarakat Kota Depok tetap terus menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan ketat. Sebab, hingga saat ini masih terus terjadi penambahan kasus positif Covid-19.terutama di klaster keluarga dan perkantoran.

"Selain itu, penularan juga terjadi karena intensitas pergerakan orang yang cukup tinggi, dimana warga Kota Depok 58 persen masih menggunakan Commuter Line. Sehingga kejadian di Kota Depok sangat dipengaruhi oleh kondisi Jabodetabek, demikian pula sebaliknya," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement