Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Biden, Islam, Yahudi dan Deklinasi Amerika Serikat

Ahad 24 Jan 2021 15:30 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Presiden RI, Jokowi (kiri) Presiden AS, Joe Biden (kanan)

Presiden RI, Jokowi (kiri) Presiden AS, Joe Biden (kanan)

Foto: VOA
Nasib Islam, dan lobby Yahudi dalam pemerintahan Joe Biden

REPUBLIKA.CO.ID, -- DR Muchotob Hamzah, Rektor Unsiq Wonosobo dan Ketua MUI Wonosobo

James Patterson dalam The Day America Told the Truth, Andrew L Sapiro dalam We are Number One, Hamilton Howze dalam The Tragic Descent: America in 2020 dan Brezezensky dalam Self Corruption Hedonistic Consumerism, sama-sama memprediksi yang bahasa halusnya  "kemunduran AS". Mereka menengarai adanya ketidak beresan negara adidaya tersebut yang menjurus pada deklinasi AS.

Prediksi itu ternyata muncul vulgar di tahun 2021. Ketika ribuan loyalis Donald Trump dari partai Republikan (bendera merah dan disebut dengan rajawali= eagle), kebanyakan para fanatis ras putih di pedesaan dan kebanyakan berpendidikan SLTA menduduki Capitol Hill selama 4 jam pada 6  Januari lalu dengan korban jiwa lima orang.

Pemicunya, pilpres tahun ini dimenangkan oleh Joe Biden dari partai Demokrat (bendera biru dan disebut merpati=pigeon) yang kebanyakan  pemilihnya di perkotaan dan berpendidikan tinggi. Ketegangan suasana tidak reda sampai 20 Januari 2021, ketika Joe Biden dilantik menggantikan Trump dengan meletakkan tangan di atas Al-Kitab berumur 127 tahun yang dibawa oleh  isterinya Jill Biden.

Banyak ahli yang mengkhawatirkan akan adanya ikutan perkepanjangan dari peristiwa yang menodai citra demokrasi ini. Negara Super Power yang diwariskan dari Trump kepada Biden, lagi mengalami deklinasi dengan ditandai antara lain.

Pertama, Pandemi covid-19 paling parah di dunia dengan korban tewas 400.000 orang. Kedua, Keterbelahan politik yang mengingatkan kejadian perang saudara 12 April 1861.

Ketiga, perang dagang dengan China yang menurut penelitian Centre for Economic and Business Research (CEBR) terhadap 197 negara, pertumbuhan ekonomi AS pasca pandemi hanya pada kisaran 1,9%/tahun dari 2022-2024 dan menurun 1,6% pada 2025.

Sementara China menetapkan pertumbuhan 5,7%/tahun dari 2021-2025, dan menurun 4,5%/tahun pada 2026-2030.

China diprediksi akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi number one di tahun 2028.

Keempat, Jerman dan kawan-kawan telah menandatangani penggunaan teknologi komunikasi  China 5G, Hua Wei yang mencemaskan AS.

Kelima, berbeda dengan AS yang memaksakan demokrasi ala mereka ke luar, China menawarkan pinjaman modal dan pembangunan infra struktur termasuk kereta listrik  super cepat.

Kenam, meskipun China dan AS berambisi menjadi  number one di dunia dan China kelihatan keras terhadap Muslim Uigur, tetapi  kebijakan AS dengan larangan masuk AS bagi muslim dari berbagai negara lebih vulgar di mata dunia.

Ketujuh, China juga tidak menawarkan revolusi sosial ataupun ideologi komunis yang menjadi phobia masyarakat dunia, tetapi menawarkan otoritanian meritokrasi yang mampu mengatur warganegaranya.

Delapan, monopoli uang dolar AS di seantero dunia sudah tersaingi oleh uang Euro maupun Renminbi yang stabil.

Sembilan, peluru hipersonik buatan Rusia telah dapat menjangkau kota-kota besar Eropa dan AS. 10. Sebagian loyalis Trump yang khawatir perlakuan Biden pasca pelantikannya, banyak yang mendaftar menjadi warga negara Rusia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA