Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Prancis Rekomendasikan Tunda Vaksinasi Covid-19 Kedua

Ahad 24 Jan 2021 13:24 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: A.Syalaby Ichsan

Peneliti bekerja di laboratorium vaksin perusahaan farmasi Prancis, Sanofi, di Marcy-l

Peneliti bekerja di laboratorium vaksin perusahaan farmasi Prancis, Sanofi, di Marcy-l

Foto: EPA-EFE/GONZALO FUENTES/POOL MAXPPP OUT
Prancis akan memberikan suntikan kedua di pekan keenam

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Otoritas kesehatan tertinggi Prancis baru-baru ini merekomendasikan penundaan waktu untuk memberikan suntikan kedua vaksin Covid-19. Berdasarkan laporan, hal itu diklaim perlu untuk menyimpan pasokan dan menyuntik sebanyak mungkin orang di tengah maraknya penyebaran virus corona.

Prancis akan memberikan suntikan kedua di pekan keenam setelah yang pertama. Langkah itu menurut Haute Autorite de Sante negara itu, dalam sebuah pernyataan, akan memungkinkan setidaknya 700 ribu lebih banyak orang yang terlindungi dengan suntikan pertama selama bulan pertama.

Lanjutnya, saran itu dilakukan pada vaksin yang dibuat oleh Pfizer Inc. dan BioNTech SE serta vaksin lain yang dipasok oleh Moderna Inc.  "Risiko hilangnya khasiat tampaknya terbatas," kata badan kesehatan tersebut dikutip dari fresnobee, Ahad (24/1).

Mereka mencatat bahwa waktu yang direkomendasikan oleh perusahaan adalah jeda tiga atau empat pekan antara suntikan. Namun demikian, berdasarkan studi, perlindungan dari virus sebenarnya dimulai antara 12 dan 14 hari setelah suntikan pertama.

Meningkatnya infeksi Covid-19 akibat penyebaran jenis virus baru yang ganas dan masalah pasokan, telah meningkatkan tekanan pada beberapa pemerintah untuk bereksperimen dengan penundaan dosis. 

Tak hanya Perancis, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pekan ini mengatakan, dosis tindak lanjut dapat diberikan hingga enam pekan kemudian. Bahkan, Inggris juga telah mendorong waktu tunggu maksimum dari tiga pekan menjadi 12 pekan.

Hal itu dilakukan, karena pemerintahan Boris Johnson berupaya untuk memvaksinasi 15 juta orang sebelum 15 Februari. Strategi tersebut sekarang menghadapi beberapa penolakan. Bahkan, sekelompok dokter senior meminta kepala petugas medis Inggris untuk memotong jarak antara dosis pertama dan kedua dari Pfizer Inc. dan vaksin BioNTech SE hingga setengahnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA