Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Pangeran Harry: Informasi Palsu Ancaman Demokrasi

Sabtu 23 Jan 2021 16:00 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

 Pangeran Harry dan Meghan dari Inggris, Duchess of Sussex mengunjungi Canada House sebagai ucapan terima kasih atas keramahan dan dukungan yang mereka terima selama mereka tinggal baru-baru ini di Kanada, di London, Selasa, 7 Januari 2020.

Pangeran Harry dan Meghan dari Inggris, Duchess of Sussex mengunjungi Canada House sebagai ucapan terima kasih atas keramahan dan dukungan yang mereka terima selama mereka tinggal baru-baru ini di Kanada, di London, Selasa, 7 Januari 2020.

Foto: Daniel Leal-Olivas/Pool Photo via AP
Pangeran menyerukan agar perusahaan medsos punya tanggung jawab lebih.

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Pangeran Harry mengatakan 'waktunya sudah habis' bagi media sosial untuk mengatasi penyebaran informasi palsu. The Duke of Sussex yakin informasi palsu adalah ancaman bagi demokrasi.

Ia menyerukan akan perusahaan media sosial lebih bertanggung jawab. Pangeran Harry menekankan soal penyerangan ke Capitol Hill, Amerika Serikat pada awal bulan ini, kekejaman terhadap warga Rohingya dan genosida di Myanmar.

Pangeran Harry juga berbicara mengenai 'pelecehan' di internet yang menerpa istrinya Meghan. "Kami sudah berkali-kali melihat akibat di dunia nyata bila penyebaran informasi palsu dibiarkan," kata Pangeran Harry pada Fast Company seperti dikutip the Guardian, Sabtu (23/1).

"Hal ini tidak bisa dibiarkan, ada serangan nyata pada demokrasi di Amerika Serikat, diorganisir di media sosial, yang mana isu kekerasan ekstremis, sudah diketahui khalayak umum," tambah Duke of Sussex.

Ia mengatakan, media sosial juga menjadi kendaraan untuk menghasut kekerasan terhadap warga Rohingya. Pangeran Harry mengatakan di Brasil media sosial juga digunakan untuk menyebar informasi palsu yang akhirnya membawa kerusakan di hutan Amazon.

Menurutnya ada orang yang kehilangan orang-orang yang mereka sayangi karena teori-teori konspirasi. "Kehilangan jati diri karena rentetan ketidakbenaran dan dalam skala besar, kehilangan demokrasi kami," tambahnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA