Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Variasi Strain Baru Corona Tingkatkan Risiko Reinfeksi

Sabtu 23 Jan 2021 06:40 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi Covid-19. Varian baru virus corona bernama P.1. menjadi penyebab dari lonjakan kasus Covid-19 di Manaus, Brasil, belum lama ini. Padahal, kota tersebut sudah mencapai ambang kekebalan kelompok di mana 70 persen dari populasi sudah terkena Covid-19.

Ilustrasi Covid-19. Varian baru virus corona bernama P.1. menjadi penyebab dari lonjakan kasus Covid-19 di Manaus, Brasil, belum lama ini. Padahal, kota tersebut sudah mencapai ambang kekebalan kelompok di mana 70 persen dari populasi sudah terkena Covid-19.

Foto: Pixabay
Kemunculan beberapa strain baru virus penyebab Covid-19 pantik risiko reinfeksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasien yang sudah pulih dari Covid-19 memiliki imunitas setidaknya lima hingga enam bulan menurut studi awal. Akan tetapi, kemunculan beberapa strain (galur) SARS-CoV-2 baru dinilai memantik risiko reinfeksi.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah strain SARS-CoV-2 bernama P.1. Peneliti mengatakan, P.1 merupakan penyebab dari lonjakan kasus Covid-19 di Manaus, Brasil, belum lama ini.

Menurut penelitian, kota tersebut sebenarnya sudah mencapai ambang kekebalan kelompok di mana 70 persen dari populasi sudah terkena Covid-19. Akan tetapi, kemunculan strain baru ini membuat kasus Covid-19 kembali melonjak dan sistem kesehatan kewalahan.

Dokter ahli penyakit menular Marcus Vinicius Lacerda dari Fundacao de Medicina Tropical Doutor Heitor Vieira Dourado meyakini bahwa reinfeksi menjadi akar dari lonjakan kasus di kota Manaus ini. Strain P.1 dinilai memiliki beberapa kemiripan dengan varian galur yang terdeteksi di Afrika Selatan bernama 501Y.V2.

Strain 501Y.V2 diketahui memiliki kemampuan untuk "melarikan diri" dari daya netralisasi antibodi dalam terapi plasma konsevalen. Tim peneliti lalu menguji plasma konsevalen dari 44 pasien untuk melawan strain 501Y.V2.

Akan tetapi, 48 persen dari plasma konsevalen yang digunakan tidak menunjukkan adanya aktivitas netralisasi terhadap strain baru tersebut. Laporan terbaru ini juga menunjukkan adanya risiko infeksi ulang.

"Data ini menyoroti prospek reinfeksi dengan varian (strain) yang berbeda secara antigen," ungkap peneliti dalam laporan tersebut, seperti dilansir Fox News.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA