Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

UI: Vaksin Berbasis DNA Masuki Tahap Uji Coba Imunitas Hewan

Jumat 22 Jan 2021 17:06 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Vaksin Merah Putih dikembangkan sejumlah lembaga.

Vaksin Merah Putih dikembangkan sejumlah lembaga.

Foto: Republika
Vaksin DNA tergolong lebIh mudah dikembangkan dan biaya produksinya rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Pengembang Vaksin Merah Putih Universitas Indonesia (UI) menyatakan progres terbaru dari vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbasis platform DNA saat ini sudah masuk tahap uji imunitas pada hewan coba. Ketua Tim Pengembang Vaksin Merah Putih Universitas Indonesia Budiman Bela mengatakan vaksin DNA memang lebih cepat pengembangannya.

"Sudah masuk pada tahapan uji coba imunitas pada hewan coba ini sudah terjadi bahkan sudah terjadi beberapa bulan yang lalu dan saat ini kita sebetulnya masuk kepada stabilitas dan efisiensi produk produksi jadi menilai bagaimana kita membuat produksinya lebih tinggi dan efisien," kata dia, dalam webinar Tantangan dan Kebijakan Pengembangan Vaksin Merah Putih untuk Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19, Jakarta, Jumat (22/1).

Budiman menuturkan, pada pengembangan vaksin DNA tersebut, nantinya harus dibuat persiapan yang baik untuk uji praklinik dan uji klinik. UI mengembangkan vaksin COVID-19 dengan empat platform yaitu DNA, RNA, protein rekombinan subunit dan virus like particles (VLP).

Ia menjelaskan, tiap platform memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Vaksin DNA tergolong lebIh mudah dikembangkan, biaya produksi relatif lebih rendah, dan relatif stabil pada 2-8 derajat Celsius dan suhu ruang.

Sementara, vaksin RNA membutuhkan teknologi produksi lebih rumit dibanding vaksin DNA, dan memerlukan lebih banyak komponen dalam produksinya.

"Namun, vaksin RNA diyakini lebih aman daripada vaksin DNA, namun belum ada bukti sampai saat ini bahwa vaksin DNA misalnya terintegrasi dengan kromosom kita," tutur Budiman.

Vaksin RNA stabil pada suhu -70 derajat Celsius, dan tidak stabil pada suhu 2-8 derajat Celsius dan suhu ruang.

"Pada waktu akan diimplementasikan, disebarluaskan maka masalah stabilitas pada suhu -70 derajat Celsius ini bisa menjadi permasalahan karena akan sulit untuk mendistribusikannya serta menjaga dia tetap pada suhu -70 derajat Celsius sesaat sebelum dipakai," ujarnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA