Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Ahli: Risiko Kematian Covid Meningkat Bila Sudah Sesak Napas

Jumat 22 Jan 2021 01:08 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga berdoa saat melakukan ziarah di kuburan  khusus kasus COVID-19 di TPU Keputih di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/1/2021). Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Kamis (21/1), jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 bertambah 11.703 sehingga total positif menjadi 951.651 dan kasus pasien COVID-19 yang meninggal dunia bertambah 346 orang, sehingga total menjadi 27.203 orang.

Warga berdoa saat melakukan ziarah di kuburan khusus kasus COVID-19 di TPU Keputih di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/1/2021). Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Kamis (21/1), jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 bertambah 11.703 sehingga total positif menjadi 951.651 dan kasus pasien COVID-19 yang meninggal dunia bertambah 346 orang, sehingga total menjadi 27.203 orang.

Foto: Zabur Karuru/ANTARA
Ahli dari FKUI menyebut covid-19 merusak organ hingga sesak dan sebabkan kematian

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) di Tanah Air secara total kini lebih dari 950 ribu kasus per Kamis (21/1). Begitu memasuki tubuh, virus ini bisa merusak berbagai organ seperti paru, jantung, pembuluh darah, hingga sesak napas yang ujung-ujungnya menyebabkan kematian.

Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI Rumah Sakit Persahabatan Agus Dwi Susanto menjelaskan, sebagian besar Covid-19 yang menginfeksi tubuh menyerang organ paru. 

"Kalau seseorang terinfeksi Covid-19, virus ini akan masuk dalam saluran napas di paru kemudian menempel di reseptornya, paling banyak ACE2. Kemudian masuk dalam sel saluran napas paru dan virusnya bereplikasi atau bertambah banyak di situ," ujarnya saat mengisi konferensi virtual BNPB bertema Kupas Tuntas Covid-19 dan Paru-paru, Kamis (21/1).

Dia mengatakan reseptor ACE2 jadi reseptor utama ada di saluran napas dan paru. Kemudian, dia melanjutkan, virus ini akan menyebabkan reaksi di tubuh yang melawan virus tersebut dan menyebabkan berbagai respons tubuh kemudian terjadi faktor peradangan atau inflamasi.

Ia menambahkan, virus ini akan menyebabkan kerusakan di paru karena merangsang kerusakan jaringan paru apabila respons inflamasi tidak bisa memberantas virus ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA