Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Memperpanjang PPKM dan Pertanyaan Apakah akan Efektif?

Kamis 21 Jan 2021 19:04 WIB

Red: Indira Rezkisari

Pekerja memadati  halte transjakarta saat jam pulang kerja di Halte Transjakarta Harmoni, Jakarta, Kamis (21/1).Pemerintah pusat melalui Ketua Komite Penanganan Covid-19  dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto berencana akan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dari tanggal 26 Januari hingga 8 Februari 2021 akibat kasus Covid-19 masih tinggi di beberapa daerah. Republika/Thoudy Badai

Pekerja memadati halte transjakarta saat jam pulang kerja di Halte Transjakarta Harmoni, Jakarta, Kamis (21/1).Pemerintah pusat melalui Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto berencana akan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dari tanggal 26 Januari hingga 8 Februari 2021 akibat kasus Covid-19 masih tinggi di beberapa daerah. Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
Ketimbang PPKM, pemerintah disarankan melakukan lockdown demi turunkan kasus.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizky Suryarandika, Sapto Andika Candra, Antara

Pemerintah memastikan memperpanjang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari. Belum berhasil turunnya kasus Covid-19 menjadi penyebab perpanjangan PPKM di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Bali.

Co-Initiator and Co-Leader Koalisi Masyarakat untuk Covid-19 (situs LaporCovid), Irma Hidayana, namun menilai perpanjangan PPKM tidak akan berpengaruh. Ia justru menyarankan pemerintah memberlakukan lockdown atau penguncian.

Ia beralasan, saat ini angka Covid-19 terus melonjak liar. Irma meyakini lockdown dapat menekan laju penularan Covid-19.

Irma pun menyayangkan pemerintah pusat yang memutuskan perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di 73 kabupaten/kota di Pulau Jawa-Bali. "PPKM tidak ada signifikannya, pertambahan kasus tetap tinggi di masa PPKM. Harusnya PPKM dievaluasi karena tidak ada pembatasan jadi biasa saja. Harus dilockdown," kata Irma pada Republika, Kamis (21/1).

Irma meminta pemerintah kembali memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara lebih ketat. Menurutnya, situasi penularan Covid-19 sudah kacau dalam beberapa hari terakhir karena trennya terus naik signifikan. "Kalau PSBB harapannya akan memudahkan melakukan 3T yaitu testing, tracing, treatment," ujar doktor bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Columbia, Amerika Serikat.

Irma berharap PSBB ketat bisa membuat mobilisasi masyarakat jadi lebih mudah dikendalikan. Pada akhirnya, beban keterisian rumah sakit dapat dikurangi ketika lebih sedikit orang tertular Covid-19.

"Kemudian pembatasan ketat, manusianya tidak berpindah, 3T-nya meningkat sehingga bisa tekan angka yang positif biar rumah sakit tidak kolaps," ucap Irma.

Berdasarkan data di situs Laporcovid yang diinisiasi Irma hingga Rabu (20/1) ada sebanyak 159.337 pasien Covid-19 yang sembuh di DKI Jakarta. Adapun penderita positif Covid-19 yang nyawanya tak tertolong berada di angka 3.118 orang. Sedangkan pasien positif Covid-19 yang masih dalam perawatan ada 17.378 orang.

Kemudian angka positif Covid-19 di Provinsi Jawa Barat ada 19.258 kasus. Pasien yang berhasil mencapai kesembuhan sebanyak 104.916 orang. Adapun penderita positif Covid-19 yang meninggal dunia adalah 3.282 orang.

Selanjutnya angka positif Covid-19 yang menjalani perawatan di Jawa Tengah ada 20.767 kasus. Sedangkan penderita Covid-19 yang gagal terselamatnya nyawanya sebanyak 12.600 orang. Jumlah penderita Covid-19 yang sukses diselamatkan ada 117.236 orang.

Lalu di Jawa Timur, penderita Covid-19 positif yang meninggal terjadi pada 7.081 kasus. Untuk angka Covid-19 aktifnya di angka 7.617 kasus. Sedangkan jumlah penyintas dari penyakit itu sebanyak 83.271 orang.

Tingginya kasus Covid-19 telah menyebabkan tenaga kesehatan (nakes) semakin tertekan. Pakar kesehatan, Zaenal Abidin, menduga kelelahan menjadi pemicu nakes lebih rentan terserang Covid-19.

Zaenal memantau pasien Covid-19 kian memenuhi rumah sakit hingga harus dirawat di hotel dan penginapan. Menurutnya, pembukaan ruang atau fasilitas rawat baru tentu akan menambah pekerjaan dan waktu kerja dokter.

"Sering juga didengar bahwa tenaga medis sudah mulai kewalahan. Karena itu boleh jadi virus covid ini memanfaatkan kelelahan dokter dan tenaga kesehatan yang merawat pasien yang terinfeksi," kata Zaenal pada Republika.

Zaenal mengingatkan bahwa kelelahan dapat menurunkan daya tahan manusia. Para nakes yang bekerja di area rawan penularan Covid-19 tentu sangat rentan tertular.

"Daya tahan atau imum tenaga medis berkurang sementara virus terus menerus menyerang, memanfaatkan sekecil apa pun kelemahan pertahanan tenaga medis," ujar mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2012-2015 tersebut.

Oleh karena itu, Zaenal berharap unsur pemerintah dan menyarakat mematuhi protokol kesehatan mencakup rajin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Tujuannya agar tidak tertular dan tidak menularkan kepada orang lain yang menyebabkan terpapar virus, sakit sehingga harus masuk ke rumah sakit.

"Semakin banyak yang sakit maka beban tenaga medis juga makin bertambah," tegas Zaenal.

Situs LaporCovid mengungkapkan ada 626 tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dunia karena terpapar Covid-19. Data tersebut dihimpun sejak awal pandemi melanda Tanah Air hingga Rabu 20 Januari 2021.

Dalam situs LaporCovid dirincikan jenis nakes yang terbanyak meninggal akibat Covid-19 ialah dokter (274 orang), perawat (194) dan bidan (84). Berikutnya ialah dokter gigi (18 orang), ATLM (13), apoteker (4), Sanitarian (3), terapis gigi (2), petugas ambulan (2), rekam radiologi (5), elektromedik (1) dan lain-lain (26).


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA