Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Iran Gembira, Pemerintahan Tiran Donald Trump Berakhir

Rabu 20 Jan 2021 17:41 WIB

Rep: Kamran Dikarma/Dwina/ Red: Teguh Firmansyah

Foto selebaran yang disediakan oleh Kantor Kepresidenan Iran menunjukkan Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama pertemuan di Teheran, Iran, 07 Januari 2021.

Foto selebaran yang disediakan oleh Kantor Kepresidenan Iran menunjukkan Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama pertemuan di Teheran, Iran, 07 Januari 2021.

Foto: EPA-EFE/IRAN'S PRESIDENTIAL OFFICE
Rouhani menganggap tekanan total rezim Trump ke Iran telah gagal.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Iran Hassan Rouhani menyambut berakhirnya masa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia menyebut kampanye tekanan yang diinisiasi Trump terhadap Teheran telah gagal.

"Karier politik tiran Trump dan pemerintahannya yang tidak menyenangkan telah berakhir hari ini dan kebijakan 'tekanan maksimum' di Iran telah gagal total. Trump sudah mati tetapi kesepakatan nuklir masih hidup," kata Rouhani dalam rapat kabinet yang disiarkan televisi pada Rabu (20/1).

Dia kemudian mendesak pemerintahan presiden terpilih Joe Biden untuk membawa AS kembali ke kesepakatan nuklir 2015. Rouhani pun menyerukan agar AS mencabut sanksi terhadap negaranya. “Bola ada di pengadilan AS sekarang. Jika Washington kembali ke kesepakatan nuklir Iran 2015, kami juga akan sepenuhnya menghormati komitmen kami berdasarkan pakta tersebut," ucapnya.

“Hari ini, kami mengharapkan pemerintahan AS yang akan datang untuk kembali ke aturan hukum dan berkomitmen, dan jika mereka bisa, dalam empat tahun ke depan, untuk menghilangkan semua titik hitam dari empat tahun sebelumnya,” ujar Rouhani.

Calon menteri luar negeri di pemerintahan Biden, Antony Blinken, mengatakan, AS tidak bakal mengambil keputusan cepat tentang apakah akan bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran atau dikenal pula dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Trump menarik AS dari JCPOA pada 2018.

Menurut Trump, JCPOA adalah kesepakatan terburuk dalam sejarah karena tidak turut mengatur program rudal balistik Iran dan perannya di kawasan. Sejak mundur dari perjanjian itu, AS kembali menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis terhadap Iran.

Trump kemudian meminta JCPOA direvisi dengan imbalan pencabutan sanksi, tapi Iran dengan tegas menolak. Semasa kampanye lalu Joe Biden telah mengutarakan keinginannya untuk membawa AS bergabung kembali dengan JCPOA. Dia menyebut hal itu menjadi salah satu prioritas pemerintahannya yang akan datang.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA