Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Tiga Juta Dosis Vaksin Olahan Biofarma Telah Selesai

Rabu 20 Jan 2021 16:56 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Andi Nur Aminah

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
tiga juta dosis vaksin tersebut telah selesai diproduksi sejak 14 Januari lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Biofarma (Persero) mengatakan telah selesai mengolah vaksin Covid-19 dari bahan baku mentah kiriman Sionvac. Sebanyak tiga juta dosis vaksin produksi Biofarma tersebut telah selesai diproduksi sejak 14 Januari kemarin.

Direktur Utama Biofarma Honesti Basyir mengatakan tiga juta dosis produksi Biofarma tersebut berasal dari 15 juta bahan baku mentah kiriman Sinovac kemarin yang datang pada awal Januari. 

"Sampai hari ini saya dapat laporan terakhir sudah ada tiga juta dosis yang sudah selesai diproduksi," ujar Honesti di Komisi VI DPR RI, Rabu (20/1).

Baca Juga

Ia mengatakan total bahan baku vaksin yang akan dikirimkan Sinoavac, perusahaan produsen vaksin asal negeri Tirai Bambu tersebut sebanyak 140 juta dosis. Nantinya, proses pembuatan vaksin olahan ini akan dilakukan dalam beberapa batch.

"Proses produksi sudah dilakukan 14 Januari, jadi dalam tiga minggu ada tiga batch proses produksi kita dan satu batch itu kira-kira satu juta dosis," jelasnya.

Atas produksi vaksin tersebut, Honesti menuturkan, pihaknya tengah melakukan pemantauan kualitas (quality control) dan segera mengirimkannya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Kita lagi proses //quality control untuk nanti kita kirimkan ke BPOM untuk mendapat floor released baru nanti kita distribusikan kalau sudah dapat released dari BPOM," tuturnya.

Sementara terkait uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan di Bandung, Honesti juga melaporkan kepada Komisi VI-DPR bahwa 1.620 relawan sudah melakukan suntik vaksin sebanyak dua dosis. Saat ini Bio Farma terus melanjutkan monitoring terhadap uji klinis tersebut.

"Kita masih melanjutkan prodium monitoring karena total waktu yang dituhkan untuk uji klinis enam bulan. Tapi dengan kebijakan pandemi dari WHO dan BPOM untuk mengeluarkau Emergency Use Authorization (EUA), interim report tiga bulanan bisa dijadikan dasar untuk mendapat EUA dari BPOM, dan alhamdulillah kita sudah mendapatkan," ujarnya.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA