Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Bumi Lebih Panas dari Sebelumnya, Akibatnya?

Rabu 20 Jan 2021 10:31 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

Bumi (ilustrasi)

Bumi (ilustrasi)

Foto: mgIT03
Tahun 2020 dan 2016 tercatat sebagai tahun terpanas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pekan ini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan tahun 2020 dan 2016 ditetapkan sebagai tahun tepanas. Pengumuman tersebut merupakan bagian dari rilis tahunan data suhu global oleh NASA dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) juga mengatakan bumi semakin panas.

“Kami sudah melihat dampak dampaknya,” kata Ilmuwan Iklim dan Direktur Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA, Gavin Schmidt.

Dalam wawancara eksklusif dengan Space, Schmidt yang memimpin studi baru menyebut ada beberapa akibat dari perubahan iklim. Misal, peningkatan jumlah gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, perubahan permukaan laut di Kutub Utara, perubahan curah hujan, dan mencairnya lapisan es di Greenland.

“Bumi telah hangat lebih dari 2 derajat Fahrenheit sejak akhir abad ke-19 dan terus berlanjut, bahkan mungkin semakin cepat. Itu didorong oleh emisi karbon dioksida, metana dan gas rumah kaca lainnya,” ujar dia.

Sekarang, ketika berbicara tentang kenaikan suhu, banyak orang yang melihat ke Perjanjian Paris. Perjanjian Paris adalah perjanjian internasional yang dibuat dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim yang ditandatangani pada tahun 2016. Tujuan perjanjian tersebut untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius atau 2,7 derajat Fahrenheit jika dibandingkan dengan level sebelum revolusi industri.

“Tidak ada hal buruk yang terjadi tepat pada 1,5 derajat. Namun, apa yang akan kita lihat adalah jumlah kerusakan dan dampak yang terus meningkat seiring peningkatan suhu rata-rata global,” tambah dia.

Berdasarkan fakta, Bumi mungkin akan mendapatkan suhu di atas 15 derajat celsius pada akhir dekade ini, 2030 atau lebih. Lalu, suhu tersebut akan meningkat dalam 10 tahun lagi. Angka tersebut mungkin tampak tidak berarti atau tidak terlalu penting, 1,5 derajat tidak tampak seperti banyak perubahan. Sayangnya, 1,5 derajat adalah masalah besar.

“Untuk orang-orang yang berkata, 'Oh, ya, Anda tahu, ini bukan angka yang besar,' ini adalah angka yang sangat besar untuk Bumi. Jika Anda menaruhnya pada skala perubahan sebelumnya di Bumi, ini sangat besar,” ucap dia.

Cara yang sangat baik untuk membuat konsepnya adalah mengingatkan zaman es terakhir, hanya sekitar 5 derajat celsius atau 8 dan 9 derajat Fahrenheit, lebih dingin daripada tingkat pra-industri. Begitu suhu meningkat sejak abad ke-19, itu seperti seperempat zaman es.

“Fakta bahwa kita sudah melihat dampaknya, memberi tahu kita jika semakin parah, dampaknya akan sangat, sangat parah,” katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA