Rabu 20 Jan 2021 04:55 WIB

Teori Konspirasi di Balik Penyerbuan ke Capitol Hill

Kelompok QAnon diduga berada di lingkaran pendukung Donald Trump.

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah
Pendukung Presiden Donald Trump naik ke platform pelantikan di Front Barat Capitol AS pada Rabu, 6 Januari 2021, di Washington.
Foto: AP/Jose Luis Magana/FR159526 AP
Pendukung Presiden Donald Trump naik ke platform pelantikan di Front Barat Capitol AS pada Rabu, 6 Januari 2021, di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, Media-media dan pengamat Amerika Serikat (AS) menilai, penyerbuan pendukung Donald Trump didorong oleh teori-teori konspirasi. Terutama, teori konspirasi QAnon. Pendukung QAnon kerap terlihat di berbagai acara kampanye Trump tahun lalu.

Pada Juli 2020 lalu jurnal ilmiah ilmu pertahanan Combating Terrorism Center (CTC) di West Point memublikasikan artikel yang memprediksi QAnon dapat menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional AS. Prediksi tersebut berdasarkan rekaman jejak teori konspirasi yang kerap mendorong kekerasan di Barat.

Baca Juga

Di Journal of Design and Science, Direktur MIT Center for Civic Media, Ethan Zuckerman menulis, QAnon sebuah teori konspirasi besar, semacam meta-narasi yang mengaitkan politik kontemporer dengan rasialisme yang sudah mengakar selama ratusan. Gagasan terbesarnya, semua presiden AS, mulai dari John F. Kennedy hingga Barack Obama bekerja sama dengan elite global yang disebut 'The Cabal'.

Tujuan mereka untuk menekan demokrasi Amerika dan melaksanakan agenda-agenda jahat. Dalam jurnal yang terbit pada 2019 lalu itu, Zuckerman menulis hampir dipastikan elite Yahudi, seperti George Soros dan keluarga Rothschild dimasukkan ke dalam kelompok tersebut.

Tetapi, menurutnya, QAnon lebih bersifat antielite dibandingkan anti-Semit. Dalam artikel yang berjudul "QAnon and the Emergence of the Unreal itu", Zuckerman menulis teori konspirasi tersebut memiliki banyak versi. Salah satunya, the Cabal ingin menghancurkan kebebasan Amerika dan menaklukan bangsa-bangsa untuk mendirikan pemerintahan dunia.

"Pada akhirnya, QAnon adalah teori konspirasi yang penuh harapan 'badai segera tiba'. Donald Trump diam-diam bekerja sama dalam sebuah liga dengan Robert Mueller untuk menangkap Hillary Clinton, Barack Obama, dan anggota Deep State (musuh negara) yang berusaha menghancurkan bangsa," tulis Zuckerman.

Pendukung teori konspirasi QAnon, yakin Trump akan mengajukan surat penangkapan lalu diikuti sidang militer dan eksekusi. Dalam artikelnya di media AS, Barrons, Wakil Presiden Pusat Ekstremisme Organisasi Hak sipil, Anti-Defamation League (ADL) Oren Segal, menulis orang-orang percaya yang percaya QAnon yakin the Cabal mengendalikan pemerintah di seluruh dunia.

"(Mereka ada di) sistem perbankan, Gereja Katolik, dan industri pertanian dan farmasi, serta industri media dan hiburan, semua elemen-elemen ini bekerja sepanjang waktu untuk memastikan orang-orang di seluruh dunia miskin, abai, dan diperbudak oleh elite, pendukung QAnon, yakin Trump memiliki kualifikasi untuk membawa elite global itu ke pengadilan," tulis Segal pada bulan Oktober 2020 lalu.

Segal menulis awalnya QAnon mempromosikan Trump lawan dari musuh negara yang disebut 'deep state'. Sebuah kelompok pedofilia yang berkaitan dengan teori konspirasi lainnya yang bernama teori Pizzagate. Teori konspirasi itu meluas ke gagasan mengenai the globalist cabal atau cabal of globalist.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement