Selasa 19 Jan 2021 21:26 WIB

Kemenag Siapkan Empat Skema PJJ Madrasah

Kemenag sebut PJJ madrasah terkendalam mental dan fasilitas.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Kemenag Siapkan Empat Skema PJJ Madrasah. Orang tua bersama anaknya memantau rapor digital semester satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri di rumahnya,  di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (23/12/2020). Aplikasi raport digital berbasis Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) tersebut dapat diakses oleh orang tua siswa tanpa harus mengambil rapor ke sekola guna mengantisipasi penyebaran COVID-19.
Foto: Antara/Prasetia Fauzani
Kemenag Siapkan Empat Skema PJJ Madrasah. Orang tua bersama anaknya memantau rapor digital semester satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri di rumahnya, di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (23/12/2020). Aplikasi raport digital berbasis Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) tersebut dapat diakses oleh orang tua siswa tanpa harus mengambil rapor ke sekola guna mengantisipasi penyebaran COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) Ahmad Umar menyatakan, pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi dengan kurikulum darurat kembali dilanjutkan pada 2021. Dia mengakui, masih ada kendala yang membuat madrasah sulit menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh.

"Salah satu kendalanya adalah kesiapan mental. Namanya orang sedang susah, susah juga untuk belajar. Fasilitas di madrasah juga masih banyak yang kurang, kondisi madrasah kita tidak semuanya siap menggunakan pembelajaran jarak jauh," kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (19/1).

Baca Juga

Ahmad mengatakan, Kemenag telah mengantisipasi dengan empat skema yang disiapkan masing-masing untuk empat tipe kondisi madrasah. "Kita terbitkan panduan kurikulum darurat berupa SK Dirjen, untuk memberikan alternatif solusi terhadap berbagai kondisi yang kita petakan sehingga pembelajaran bisa berjalan," ujarnya.

Empat tipe kondisi itu, pertama ialah madrasah yang letaknya sulit dijangkau dan biasanya berada di daerah pelosok di dataran tinggi. Tetapi daerah ini masih memungkinkan untuk dikunjungi dan dikumpulkan secara terbatas.

"Untuk yang seperti ini, kita mengembangkan mekanisme guru kunjung. Kita kasih panduan untuk menyiapkan materi, kemudian guru mendatangi area-area masjid dan bekerja sama dengan RW atau kepala desa setempat. Yang penting komunitasnya terbatas sehingga tidak ada kerumunan," ujarnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement