Selasa 19 Jan 2021 18:59 WIB

Harapan Ketua PBNU Atas Terowongan Masjid Istiqlal-Katedral

Terowongan Masjid Istiqlal-Katedral mulai dibangun.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Harapan Ketua PBNU Atas Terowongan Masjid Istiqlal-Katedral. Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan jalur menuju terowongan yang rencananya akan menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).
Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Harapan Ketua PBNU Atas Terowongan Masjid Istiqlal-Katedral. Foto: Pekerja menyelesaikan pembuatan jalur menuju terowongan yang rencananya akan menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud menyampaikan harapannya atas pembangunan terowongan silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Kaedral. Pembangunan terowongan ini mulai dikerjakan dan sedang dilakukan penggalian di Jalan Katedral.

Kiai Marsudi berharap dengan adanya terowongan silaturahim dapat semakin menjalin kerjasama sosial dan muamalah yang baik antar umat agama. Ketika ada terowongan penghubung Gereja Katedral dengan Masjid Istiqlal bisa untuk saling berhubungan, minimal untuk saling mendukung kebutuhan sosial dan kemanusiaan, sifatnya muamalah.

Baca Juga

"Mudah-mudahan (bisa lebih) saling melindungi dan saling menjaga keamanannya antara masjid dan gereja," kata Kiai Marsudi kepada Republika, Selasa (19/1).

Ia menegaskan bahwa kontek lakum dinukum waliyadin yang artinya untukmu agamamu dan untukku agamaku sudah jelas sekali. Konteks muamalah juga sudah jelas sekali. Maka yang beda tidak usah disama-samakan, dan yang sudah sama jangan dibeda-bedakan.

"Yang beda tetap berbeda, nama agamanya saja beda, nama tempat ibadahnya juga beda, jadi yang beda jangan disama-samakan, yang sudah sama jangan dibeda-bedakan," ujarnya.

Sebelumnya, hal senada disampaikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ia berharap persaudaraan sejati semakin terwujud di bumi pertiwi tercinta.

"Harapan saya persaudaraan sejati semakin terwujud di bumi pertiwi tercinta kita ini. Bila bukan saudara seiman maka kita semua adalah saudara sekemanusiaan, sebangsa dan setanah air," kata Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Agustinus Heri Wibowo kepada Republika, Senin (18/1).

Romo Heri mengungkapkan, Bhineka Tunggal Ika itu sungguh indah mewujud secara nyata di negara Indonesia tercinta yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Terowongan tersebut juga bukan semata-mata jalan penghubung. Terowongan itu sebetulnya menegaskan dan mendukung relasi selama ini yang sudah sangat baik.

Ia mengatakan, seandainya Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal tidak dipisahkan oleh jalan, mungkin akan ada satu halaman bersama yang tidak disekat oleh pagar. Itulah indahnya hidup damai berdampingan dengan saling hormat, timbal balik penuh kasih, saling menghargai apa yang kudus dan suci dalam setiap agama serta kepercayaan.

"Kiranya simbol tersebut merupakan perwujudan dan harapan akan relasi umat beragama yang senantiasa rukun dan damai dalam peziarahan hidup ini," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement