Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Qatar Desak Negara Teluk Buka Dialog dengan Iran

Selasa 19 Jan 2021 20:31 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Para jurnalis mengobrol saat video pesawat yang membawa Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ditampilkan di layar saat mendarat di bandara Al Ula, tempat pertemuan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) ke-41, di Arab Saudi, Selasa, 23 Januari. 5, 2021. Kedatangan Al Thani di kota gurun kuno kerajaan Al-Ula pada hari Selasa disiarkan langsung di TV Saudi. Dia terlihat turun dari pesawatnya dan disambut dengan pelukan oleh putra mahkota Saudi. Terobosan diplomatik terjadi setelah desakan terakhir oleh pemerintahan Trump yang akan keluar dan sesama negara Teluk Kuwait untuk menengahi diakhirinya krisis.

Para jurnalis mengobrol saat video pesawat yang membawa Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ditampilkan di layar saat mendarat di bandara Al Ula, tempat pertemuan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) ke-41, di Arab Saudi, Selasa, 23 Januari. 5, 2021. Kedatangan Al Thani di kota gurun kuno kerajaan Al-Ula pada hari Selasa disiarkan langsung di TV Saudi. Dia terlihat turun dari pesawatnya dan disambut dengan pelukan oleh putra mahkota Saudi. Terobosan diplomatik terjadi setelah desakan terakhir oleh pemerintahan Trump yang akan keluar dan sesama negara Teluk Kuwait untuk menengahi diakhirinya krisis.

Foto: AP / Amr Nabil
Qatar mendesak negara Teluk masuk ke dalam dialog dengan Iran

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Qatar mendesak negara-negara Teluk untuk masuk ke dalam dialog dengan Iran. Doha pun menawarkan untuk menengahi negosiasi setelah blokade tiga tahun baru-baru ini dicabut oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir.

Negara yang berbagi ladang gas utama dengan Iran ini telah bertahun-tahun meminta negara-negara Teluk Arab untuk mengadakan pembicaraan dengan Teheran. Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan kepada Bloomberg TV pada Senin (18/1) bahwa pemerintahnya masih berharap perundingan akan terjadi.

"Kami masih percaya ini harus terjadi. Ini juga merupakan keinginan yang dimiliki oleh negara-negara GCC [Dewan Kerja Sama Teluk] [untuk berbicara dengan Iran]," kata Sheikh Mohammed dikutip dari Aljazirah.

Saingan berat Iran, Arab Saudi, belum secara terbuka menunjukkan kesediaan untuk terlibat dengan Teheran. Sebaliknya Riyadh bersikeras bahwa pemulihan hubungan bulan ini dengan Qatar berarti keluarga Teluk akan lebih mampu memerangi ancaman yang ditimbulkan oleh program rudal nuklir dan balistik rezim Iran.

Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Qatar pada 2017 dan memberlakukan blokade darat, laut, dan udara. Mereka menuduh Doha mendukung terorisme dan terlalu dekat dengan Iran.

Qatar berulang kali membantah klaim tersebut dan mengatakan tidak ada pembenaran untuk memutuskan hubungan. Perbatasan sekarang telah dibuka kembali, kedutaan akan segera didirikan kembali.

Mengomentari secara terpisah tentang potensi negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, Sheikh Mohammed mengatakan Qatar akan memfasilitasi diskusi tersebut jika diminta. Doha pun akan mendukung siapa pun yang dipilih untuk melakukannya.

"Kami ingin pencapaiannya, kami ingin melihat kesepakatan itu terjadi. Di mana pun itu, siapa pun yang melakukan negosiasi ini, kami akan mendukung mereka," kata Sheikh Mohammed.

Komentar itu muncul sebelum Presiden terpilih Joe Biden dilantik di Gedung Putih menggantikan Presiden Donald Trump. Pemimpin yang baru terpilih sudah berjanji untuk kembali ke meja perundingan dengan Iran, menandai perubahan nada dalam diplomasi AS di wilayah tersebut.

Pada Senin, Biden menominasikan diplomat lama Wendy Sherman yang merupakan negosiator kunci perjanjian nuklir Iran, untuk menjadi Wakil Menteri Luar Negeri. Kekuatan dunia menandatangani perjanjian nuklir dengan Iran pada 2015 dan pemerintah Trump keluar dari perjanjian itu pada 2018. Sejak itu, ketegangan antara kedua negara meningkat di tengah semburan retorika permusuhan dan aksi militer.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA