Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Biden Diprediksi Perbaiki Relasi AS yang Tegang oleh Trump

Selasa 19 Jan 2021 17:52 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Christiyaningsih

Presiden AS terpilih, Joe Biden

Presiden AS terpilih, Joe Biden

Foto: AP/Matt Slocum
Biden diperkirakan akan berusaha memperkuat hubungan dengan pemimpin Eropa barat

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Para analis memprediksi Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Joe Biden akan membangun kembali hubungan di beberapa negara. Biden diperkirakan akan berusaha untuk memperkuat hubungan dengan sejumlah pemimpin di Eropa barat, terutama Kanselir Jerman Angela Merkel.

Saat Biden masih menjadi wakil presiden pada 2009, dia memiliki hubungan dekat dengan Merkel. Namun, hubungan antara AS dengan Merkel telah tegang selama pemerintahan AS di bawah Trump.

Hubungan Biden dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang merayu Trump saat Inggris menarik diri dari Uni Eropa, masih semakin samar. Meski begitu, Biden yang menjabat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat dari 1997 sampai 2009 telah menggambarkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang membangun hubungan pribadi dengan rekan-rekannya.

Berdasarkan pengalaman politik hampir lima dekade, Biden juga menyebut dia tidak takut untuk berbicara langsung saat dibutuhkan. Rekan kerjanya, mantan Presiden Barack Obama, memuji kemampuan Biden dalam mengejar tujuan tanpa terjebak di perdebatan ideologis.

Di satu sisi, Biden dengan cepat bergerak untuk mengisi pemerintahannya dengan diplomat terkemuka, termasuk mencalonkan negosiator kesepakatan nuklir Iran untuk posisi nomor dua di Departemen Luar Negeri AS.

Dilansir Aljazirah pada Selasa (19/1), Biden juga berjanji untuk mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap para pelanggar hak asasi manusia yang menandakan kemungkinan putusnya hubungan dekat Trump dengan beberapa pemimpin negara. Contohnya, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden sayap kanan Brasil Jair Bolsonaro, dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi yang disebut Trump sebagai diktator favoritnya di Konferensi Tinkat Tinggi (KTT) G7 tahun 2019.

Mantan asisten menteri luar negeri AS, PJ Crowley, mengatakan Biden berbeda dengan Trump. Trump dekat dengan diktator sedangkan Biden membangun hubungan dengan pihak yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama.

Namun, itu tidak berarti Biden tidak akan bekerja dengan para pemimpin otokratis. Crowley mengatakan Trump juga mengambil pendekatan transaksional dengan sejumlah pemimpin, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pendekatan tersebut berkontribusi mencapai kebijakan luar negeri terbesarnya yakni perjanjian normalisasi antara Israel dan Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Sudan, dan Maroko.

“Joe Biden adalah seorang politikus taktis dan saya pikir dia akan mampu memengaruhi orang banyak dengan cara yang tidak dilakukan Barack Obama,” kata Crowley.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA