Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

BNPT: Sel Terorisme Eksploitasi Masyarakat Terdampak Pandemi

Selasa 19 Jan 2021 00:01 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Indira Rezkisari

Pengendara melaju di depan rumah terduga teroris yang dipasangi garis polisi usai penggerebekan di Perumahan Villa Mutiara, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/1/2021). BNPT mengaktifkan pemantauan online cegah organisasi terorisme yang memanfaatkan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Pengendara melaju di depan rumah terduga teroris yang dipasangi garis polisi usai penggerebekan di Perumahan Villa Mutiara, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/1/2021). BNPT mengaktifkan pemantauan online cegah organisasi terorisme yang memanfaatkan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Foto: Antara/Arnas Padda
Organisasi teroris mengeksploitasi kecemasan dan keputusasaan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Eddy Hartono, mengatakan, meski tak ada serangan teroris besar-besaran selama pandemi, sel-sel terorisme Indonesia tetap bergerak. Mereka disebut aktif menyebarkan pesan radikal dan mencari anggota baru di saat Indonesia bergulat dengan dampak Covid-19.

"Mereka secara aktif merekrut, menyebarkan ideologi mereka, menggalang dana dan melakukan pelatihan," ungkap Eddy, dikutip dari hasil wawancara ekslusif Channel News Asia, Senin (18/1).

Dia menjelaskan, pandemi telah menyebabkan jutaan orang Indonesia kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan tajam dalam pendapatan mereka. Organisasi teroris, kata dia, mengeksploitasi kecemasan dan keputusasaan masyarakat tersebut. “Akan lebih banyak orang yang rawan radikalisasi,” ujar Eddy.

Untuk itu, pihaknya melawan hal tersebut dengan membangun narasi tandingan. BNPT ia sebut telah melibatkan para pemimpin agama dan komunitas untuk menghilangkan narasi yang digunakan oleh para radikal.

"Kami mempromosikan nilai-nilai nasionalisme, toleransi dan kebersamaan," ungkap dia.

Eddy mengatakan, dengan dibatasinya khutbah publik selama pandemi, sebagian besar sel-sel terorisme mengandalkan media sosial untuk menyebarkan ideologi mereka. BNPT saat ini tengah menginteksifkan pemantauan daring dengan sejumlah pihak terkait untuk mengatasi hal tersebut.

"Kami sedang mengintensifkan pemantauan online kami. Kami sudah bekerja sama dengan BIN, polisi dan Kominfo dan membentuk satgas khusus untuk memantau konten yang mengandung intoleransi dan terorisme," ujar dia.

Dia menjelaskan, pihaknya secara aktif menghapus konten seperti itu ketika menemukannya. Menurut Eddy, sel-sel terorisme itu menyebarkan konten secara agresif. Karena itu ia menyatakan, pihaknya harus lebih agresif lagi agar tak kehilangan kesempatan melawan.

Eddy juga mengatakan, satu-satunya hal yang melambat terkait gerak-gerik terorisme selama pandemi ialah pengiriman militan untuk bergabung dengan barisan ISIS di Irak dan Suriah. Eddy mengungkapkan, unit kontraterorisme polisi Densus 88 menangkap total 232 orang yang diduga terlibat dalam kegiatan terorisme tahun lalu.

“Mereka memang merencanakan penyerangan terhadap aparat keamanan, institusi negara, militer, dan polisi. Syukurlah kami dapat mencegah (serangan ini) terjadi," kata dia.

Eddy mengatakan, selama pandemi, pihak berwenang telah menemukan keberadaan bunker untuk menyimpan senjata api dan vila yang digunakan para teroris untuk melatih rekrutan baru. Sel-sel terorisme juga disebut telah menggalang dana langsung dari masyarakat melalui ribuan kotak amal dengan dalih donasi untuk bencana alam, bantuan sosial, serta upaya bantuan Covid-19.

“Ancaman (serangan terorisme) ada di mana-mana dengan atau tanpa pandemi,” kata dia.

Pandemi telah membuat orang menghindari kerumunan besar, ruang publik ditutup dan dipantau, sementara rumah ibadah sangat mengurangi kapasitas mereka. Ini mungkin telah menurunkan kemungkinan para militan menjadikan masyarakat sebagai target mereka.

Menurut Eddy, dari beberapa tersangka yang ditangkap, pihak berwenang mengetahui teroris telah mengubah target mereka. Mereka merencanakan untuk melakukan serangan terhadap pejabat keamanan dan pemerintah bukan warga sipil biasa.

“Begitu mereka melakukan perencanaan, kami mendeteksi mereka dan membendung ancaman,” ujar dia.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA