Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

42 Guru di Payakumbuh Positif Usai Tes Swab Massal

Selasa 19 Jan 2021 00:32 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Friska Yolandha

Paman dari salah satu korban kecelakaan penerbangan Sriwijaya Air SJ182 memiliki sampel swab yang dikumpulkan untuk tes DNA di rumah sakit polisi di Jakarta, Indonesia, 13 Januari 2021. Penerbangan Sriwijaya Air SJ182 jatuh ke laut di lepas pantai Jakarta pada 09 Januari 2021 tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Jakarta saat dalam perjalanan ke Pontianak di provinsi Kalimantan Barat.

Paman dari salah satu korban kecelakaan penerbangan Sriwijaya Air SJ182 memiliki sampel swab yang dikumpulkan untuk tes DNA di rumah sakit polisi di Jakarta, Indonesia, 13 Januari 2021. Penerbangan Sriwijaya Air SJ182 jatuh ke laut di lepas pantai Jakarta pada 09 Januari 2021 tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Jakarta saat dalam perjalanan ke Pontianak di provinsi Kalimantan Barat.

Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Pembelajaran tatap muka tetap berjalan di sekolah yang tidak jadi klaster penularan.

REPUBLIKA.CO.ID, PAYAKUMBUH -- Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Bakhrizal mengatakan pihaknya telah melakukan rapid test berlanjut swab massal terhadap guru-guru sejak menjelang dimulainya sekolah tatap muka. Hasilnya, mereka menemukan 42 orang guru positif covid-19.

"Dari pemeriksaan swab test, ada 42 orang (guru) positif covid-19," kata Bakhrizal, Senin (18/1).

Dinkes Payakumbuh telah melakukan rapid test terhadap lebih dari 3.000 guru. Guru-guru yang menunjukkan hasil reaktif diharuskan melanjutkan ikut swab test.

Hasilnya, sebanyak 42 guru yang dinyatakan positif covid-19. Saat ini, seluruhnya sudah ditangani dengan isolasi mandiri. 

Sementara itu, Dinas Kesehatan terus melaukan tracing dan testing untuk mendeteksi potensi penularan lebih luas. Para guru yang diperiksa dan sudah dinyatakan positif covid-19 ini beragam, mulai dari guru SD, SMP sampai SMA.

Bakhrizal menyebut aktivitas belajar tatap muka langsung tidak dihentikan untuk sekolah yang tidak menjadi klaster penularan. Mereka cukup mengisolasi guru atau murid yang ketahuan positif dari luar.

Tapi bila ada kedapatan penularan berasal dari sekolah, aktivitas sekolah tatap muka akan kembali dialihkan ke sekolah daring. "Yang kedapatan positif ini berasal di beberapa sekolah, kami punya data lengkapnya. Sekolah yang tidak ada kasus positif tetap melanjutkan pendidikan tatap muka," ucap Bakhrizal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA