Senin 18 Jan 2021 16:18 WIB

JK: Dibutuhkan Lima Kali Lipat Pendonor Plasma Konvalesen

Jumlah pendonor bisa ditingkatkan mengingat penyintas Covid-19 yang sembuh banyak

Rep: fauziah mursid/ Red: Hiru Muhammad
Petugas PMI Kota Tangerang menunjukkan plasma darah atau plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Kantor PMI Kota Tangerang, Banten, Kamis (17/12/2020). PMI Kota Tangerang menyediakan plasma konvalesen untuk terapi penyembuhan pasien COVID-19 sekaligus mengajak para penyintas yang sembuh dari COVID-19 untuk mendonorkan plasma darah konvalesen untuk membantu pasien COVID-19 yang masih dalam perawatan.
Foto: Antara/Fauzan
Petugas PMI Kota Tangerang menunjukkan plasma darah atau plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Kantor PMI Kota Tangerang, Banten, Kamis (17/12/2020). PMI Kota Tangerang menyediakan plasma konvalesen untuk terapi penyembuhan pasien COVID-19 sekaligus mengajak para penyintas yang sembuh dari COVID-19 untuk mendonorkan plasma darah konvalesen untuk membantu pasien COVID-19 yang masih dalam perawatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menyebut saat ini jumlah pendonor plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 masih kecil dibandingkan kebutuhan pasien Covid dengan gejala berat dan kritis di rumah sakit. JK mengatakan, dari total 7.680 distribusi plasma konvalesen sejak Mei hingga 14 Januari 2021,  artinya baru ada sekitar 40 pendonor tiap hari.

Sementara, tiap hari dari seluruh Indonesia dibutuhkan kurang lebih 200 pendonor plasma konvalesen. "Yang kita bisa penuhi 40-50 per hari, karena itu dibutuhkan pendonor lima kali lipat lagi, baru kita bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengurangi tingkat kematian," ujar JK dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen secara daring, Senin (18/1).

JK menjelaskan, jumlah kebutuhan itu dapat diketahui dari jumlah yang kasus Covid-19 yang masih aktif di Indonesia saat ini. Ia optimistis jumlah pendonor bisa ditingkatkan mengingat  penyintas Covid-19 yang telah sembuh cukup banyak. Meskipun, ada beberapa pendonor plasma konvalesen juga tidak bisa mentranfusi plasma darahnya karena beberapa syarat yang harus dipenuhi.

"Karena hamil tidak bisa, umur tentu, tapi katakanlah 20 persen saja penyintas mendonorkan maka semua kebutuhan dapat dipenuhi dan Insya Allah kematian akan berkurang dari manusia ke manusia," kata Wakil Presiden ke-10 dan 12 itu.

Karena itu, ia berharap penyintas Covid-19 agar menyumbangkan plasma darahnya untuk membantu sesama dan menekan angka kematian karena Covid-19. Dalam kesempatan itu, ia mencontohkan Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto yang pada saat itu memberikan donor plasma darah konvalesen.

"Ini merupakan rasa syukur telah sembuh, juga bisa menyelamatkan orang untuk sehingga tidak menyebabkan kematian, jadi suatu amal luar biasa, sebagaimana juga Allah meyampaikan semua penyakit ada obatnya, maka salah satu obatnya adalah plasma konvalesen," kata JK.

JK juga memastikan PMI siap mendukung program donor plasma konvalesen dengan mengerahkan unit donor darah (UDD) di daerah, terutama yang mempunyai peralatan untuk mengelola plasma tersebut.

"Kita punya 60 alat tersebar di seluruh Indonesia. dan di beberapa RS besar punya ini. PMI siap bekerja sama dan 31 UDD, kita dari 235, punya peralatan lengkap dan keahlian untuk itu. semua yg menangani itu lulusan akademi perawatan darah dan plasma jadi jangan khawatir," katanya.

Pencanangan Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen itu juga diresmikan oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin secara daring. Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan transfusi plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 kepada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis memiliki tingkat efikasi cukup tinggi. Karena itu, Ma'ruf berharap para penyintas Covid-19 mendonorkan plasma konvalesen untuk membantu kesembuhan pasien Covid-19 yang saat ini tengah dirawat di berbagai rumah sakit.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement