Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Banyak Pasien Covid-19 di Lebanon Meninggal di Rumah

Senin 18 Jan 2021 10:03 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Christiyaningsih

Warga berjalan kaki di Beirut, Lebanon pada 9 Januari 2021.

Warga berjalan kaki di Beirut, Lebanon pada 9 Januari 2021.

Foto: Nabil Mounzer/EPA
Semua tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit Lebanon telah penuh

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Banyak ahli memperkirakan akan ada lonjakan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di Lebanon dalam beberapa pekan mendatang. Banyak rumah sakit diprediksi akan melebihi kapasitas sejak pekan depan.

Pada Ahad (17/1), jumlah total infeksi terkonfirmasi melebihi seperempat juta orang di negara itu. Dalam 17 hari pertama tahun ini, 67.655 kasus baru dicatat dan periode lockdown diharapkan akan diperpanjang setidaknya selama 10 hari lagi.

Diansir Arab News, Kepala Jaringan Rumah Sakit Swasta Lebanon Suleiman Haroun mengatakan kondisi saat ini memang buruk. Namun ke depannya ia juga memprediksi kondisi yang lebih buruk akan terjadi.

 “Pemandangan pandemi di Lebanon mencerminkan sebagian dari kenyataan, tidak semuanya. Situasi sebenarnya akan lebih buruk," katanya.

 “Semua tempat tidur yang ditujukan untuk pasien Covid-19 di rumah sakit telah penuh serta di bagian gawat darurat dan ada lusinan pasien yang berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk mencari tempat tidur.  Rumah sakit telah melebihi kapasitas mereka," tambahnya.

Ahli paru dan perawatan intensif Wael Jaroush berkata kondisi ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kondisi semua fasilitas kesehatan tidak mampu menampung kembali pasien.

“Mereka sekarat di rumah mereka. Beberapa dari mereka mengemis untuk membeli generator oksigen, baru atau bekas. Harga yang baru biasanya Rp 9 juta. Namun orang-orang menjual perangkat bekas seharga sekitar Rp 70 juta. Beberapa pasien terpaksa membelinya dalam mata uang asing, yang berarti bahwa keluarga pasien membeli dolar di pasar gelap dengan harga lebih," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa botol oksigen 10 liter dan yang lebih kecil sudah habis karena permintaan yang tinggi. Baik untuk penyimpanan karena kurangnya kepercayaan pada negara atau karena tidak tersedia di rumah sakit.

“Sebagai seorang dokter, saya bertemu dengan pasien yang memberi tahu saya bahwa mereka membeli botol oksigen dua bulan lalu, misalnya, dan menaruhnya di rumah mereka, seperti yang mereka lakukan ketika mereka terpaksa menyimpan obat-obatan," katanya.

“Seorang pasien Covid-19 yang tidak dapat menemukan tempat tidur kosong di rumah sakit dan diminta untuk mencari oksigen dan tinggal di rumah membutuhkan 40 atau 50 liter oksigen. Jadi ketika botol oksigen 10 liter habis, pasien meninggal karena jantungnya berhenti. Ini terjadi sekarang dan beberapa pasien meninggal di rumah mereka," tuturnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA