Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Rezekimu Ada di Sedekahmu

Senin 18 Jan 2021 05:56 WIB

Rep: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)/ Red: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)

Rezekimu Ada di Sedekahmu Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Rezekimu Ada di Sedekahmu Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Sedekah selalu beriringan dengan rezeki yang didapat manusia

Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Dulu, tanah itu dibeli hanya dengan uang lima juta. Namun, sekarang tanah itu ditawar 250 juta. Kok bisa? Itulah yang terjadi. Sekitar tahun 1994, tanah itu dibeli oleh Ahmad Fauzi sekedar untuk tabungan simpanan saja. Dia ingin punya aset sebagai investasi untuk menghadapi hari depan. Lantaran itu, dia sisihkan sebagian gaji untuk program investasi.

Setelah lebih dari 25 tahun berlalu, tiba-tiba ada orang yang tertarik membeli tanahnya. Harganya pun melambung tinggi. Sedangkan tanah di sebelahnya sudah terbeli oleh para pemilik modal yang akan menjadikannya sebagai kompleks perumahan.

Namun, tidak dengan tanah milik Fauzi. Untuk saat ini, dia tidak berniat menjualnya. Dia masih mempunyai dua anak perempuan yang baru beranjak dewasa. Anak bungsunya kelas 11 SMA, yang sulung telah lulus kuliah dan baru saja menikah. Fauzi sendiri anak sulung dari lima bersaudara. Dia laki-laki satu-satunya. Ibu kandungnya masih hidup dan masih sehat.

Singkat kisah, sang ibu tahu bila Fauzi, anak mbarepnya, itu punya tanah. Ibunya juga tahu bila kondisi ekonomi dari anak lelakinya ini paling mapan dibandingkan semua adik-adiknya. Hingga tibalah momen yang amat krusial, sang ibu ‘meminta’ kepada Fauzi untuk membantu adik-adiknya. Sang ibu meminta supaya tanah yang punya harga jual tinggi itu, sebaiknya dijual. Maksud ibu Fauzi, uang hasil penjualan tanah bisa dipakai untuk membantu adik-adiknya.

Permintaan tiba-tiba ibunya tentu memunculkan dilemma pada Fauzi. Dia sendiri punya keluarga, ada istri dan dua anak. Sementara itu, setelah berpikir—berdiskusi dengan istri serta kedua anaknya, keputusan berat akhirnya diambil. Dia bersedia menjual tanah itu dan memberikan uangnya kepada ibunya.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia pun berusaha untuk tetap yakin. Dia berusaha optimis bila apa yang telah dia berikan kepada ibunya itu cepat atau lambat pasti mendapat ganti yang jauh lebih baik dari Allah. itulah bagian dari baktinya kepada ibunya, sekaligus sedekah kepada adik-adiknya.

Ia yakin bahwa imbalan sedekah ini tak perlu menunggu hingga kelak di akhirat. Imbalan sedekah ini pasti akan segera diganti dengan sesuatu yang lain yang lebih besar nilainya oleh Allah saat masih di dunia.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan suaramuhammadiyah.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab suaramuhammadiyah.id.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA